Monday, July 30, 2007

Bikin Jalan Kok Sungai Ditutup

Masyarakat Desa Angan Tembawang Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak patut bersyukur. Soalnya, jalan yang didambakan masyarakat sudah mulai dilakukan dengan tahap awal penggusuran.

Sekian tahun menunggu, masyarakat tentunya sangat senang dengan kegiatan proyek penggusuran tersebut. Sebab, tidak lama lagi mereka akan dapat melalui jalan yang lebar, meski belum dilakukan pengaspalan. Namun, masyarakat Desa Angan Tembawang juga merasa khawatir terhadap sungai yang membelah kampung tersebut.

Pasalnya, gusuran tanah dan pohon-pohon hasil tebangan untuk pelebaran jalan dibuang di pinggiran Sungai Angan. Jika kayu berupa pohon kelapa dan pohon lainnya tidak segera diangkat dari sungai itu, tidak menutup kemungkinan sekian tahun ke depan, generasi muda Angan hanya mandi di sungai yang hanya sebesar parit.

Siapa yang salah? Tentunya tidak bisa menyalahkan siapa pun. Yang pasti, masyarakat Angan Tembawang tak boleh terlena dalam pembangunan yang dilakukan tanpa melestarikan sungai Angan itu sendiri.

Sebaliknya, pelaksana proyek penggusuran jalan itu selayaknya mau peduli terhadap kelangsungan hayati dan nabati Sungai Angan itu. Celakanya, mereka cenderung sengaja tidak mengangkat batang-batang kayu itu ke daratan. Mungkin, mereka mesti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memindahkan kayu-kayu itu.

DPRD Kabupaten Landak yang mengetok palu, pengesahan pelaksanaan proyek penggusuran jalan itu tentunya telah mewanti-wanti pelaksana proyek untuk memperhatikan hal tersebut.

Adakah Dewan Landak turun ke lapangan memonitoring pelaksanaan proyek tersebut? Atau mereka cuek saja, lantaran telah mendapat perhargaan dari pelaksana proyek? Sebagai salah seorang masyarakat Desa Angan Tembawang, tentunya sangat mengharapkan monitoring dan pengawasan dari Dewan Landak atas proyek tersebut.

Pemerintah Landak hendaknya tidak merencanakan penggusuran jalan itu dengan semau gue. Jangan hanya sekedar efouria masyarakat saja. Setelah itu, jalan yang digusur itu dilalaikan. Percuma dana yang dikeluarkan tidak berfungsi, lantaran jalannya rusak lagi.

Masyarakat Angan Tembawang tentunya tidak mau melihat anak-anak mereka hanya bermain dan mandi di sungai yang tidak lebih dari sekedar parit yang dangklnya hanya selutut. Janga sampai Sungai Angan yang membelah kampung itu hanya tinggal kenangan. (*)

Read more...

Angan juga Punya Objek Wisata

KEPERAWANAN hutan di Desa Angan Tembawang menghadirkan keunikan tersendiri. Betapa tidak, selain Riam Ango yang jadi primadona, Riam di Angan juga menghadirkan empat riam lainnya yang tidak kalah menarik.

Tiga diantaranya, Riam Along, Riam Bengaris dan Riam Game'. Namun, dua riam terakhir, Bengaris dan Game' memiliki "papan" luncuran yang selalu dialiri air.

Disinilah, pengunjung dimanjakan dengan berseluncur mengikuti air. Akankah ada investor yang berinvestasi di aset wisata milik Desa Angan Tembawang tersebut?

Di Riam Ango juga memiliki keunikan dimana kedalaman muara air terjun mencapai empat meter menyimpan berbagai biota sungai diantaranya ikan, sehingga jadi kegiatan menarik seperti berburu ikan.

Di hilir Riam Ango tak kalah menarik lagi. Adalah Riam Game', Riam Along, misalnya. Dua riam ini menyuguhkan keunikan masing-masing. Jarak antara Riam Bengaris dan Riam Game' hanya sekitar 25 meter.

Dua riam ini menjadi tempat permainan yang mengasyikan, sebab keduanya memiliki tekstur seperti "papan" luncuran. Fasilitas alam inilah yang kerap digunakan pengunjung untuk menuntaskan perburuan wisata di daerah tersebut.

Apalagi antara kedua riam itu terdapat sebuah "kolam" air, yang digunakan untuk berenang pengunjung oleh alam. Sebab objek wisata ini benar-benar alami, sehingga pengunjung dituntut pandai berenang untuk merasakan kesejukan air pergunungan tersebut.

Panjang papan luncuran sekitar sepuluh meter dengan lebar sekitar tiga meter. Debit yang tidak konstan menambah keunikan dua riam ini. Deras tidaknya aliran air sangat tergantung musim, apakah hujan atau tidak.

Bila musim hujan tiba, maka gemuruh aliran sungai akan sampai di perkampungan, yang jaraknya sekitar tiga kilometer. Tapi bila musim panas tiba, aliran ini menurun cukup drastis. Kendati demikian, keasrian riam ini tetap memancarkan pesona yang menyejukan.

Lantas apa lagi yang ditawarkan lima riam yang berderet-deret tersebut? Jalan tempuh menuju riam itu melewati hutan-hutan perawan. Bahkan melewati tembawang (pepohonan) milik masyarakat Angan Tembawang, berupa Durian, Tengkawang dan perkebunan Karet alam.

Bukan hanya itu, wisata lintas alam melewati persawahan yang menawarkan keindahan padi, yang melambai ditiup anginpun tak kalah menarik. Tidak hanya tempat pemandian saja yang disuguhkan dua riam itu.

Di bawah rerimbunan pepohonan bisa meninabobokan penikmat wisata. Ada satu batu pualam, untuk luang waktu beristirahat, sambil menikmati sejuknya air pegunungan. Bukan hanya itu, penikmat wisata juga ditawarkan untuk melakukan perburuan ikan di dua riam tersebut.

Memang tidak sebanyak ikan di Riam Ango, namun paling tidak dapat memberikan oleh-oleh menarik bagi penyelam. Di sekeliling dua riam ini ditumbuhi bunga-bunga air yang dapat dibawa pulang. Anggrek hutan, misalnya. Yang jelas, lima deret riam di kawasan pegunungan Desa Angan Tembawang menghadirkan "sejuta magis" wisata.

Sayangnya, hingga kini, belum ada satupun investor yang berniat mengembangkan objek wisata tersebut. Namun itu masih bisa menjadi suatu harapan yang mungkin jadi kenyataan. Karena kawasan Desa Angan Tembawang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung terpadu, oleh pemerintah. Alasannya, karena keasrian dan keperawanan hutan Desa Angan Tembawang itu. (*)

Read more...

Kisah Kampung Angan Tembawang

Di Kabupaten Landak, Kecamatan Ngabang ada tempat bernama Desa Angan Tembawang. Di dalamnya terdapat miniatur kehidupan subsuku Dayak Angan. Masyarakatnya masih terus mewariskan adat istiadat untuk keselamatan dan kemakmuran penghuni kampung.

Kendaraan roda empat yang kami tumpangi berusaha mendaki jalan tak beraspal menuju Desa Angan Tembawang. Sesekali rodanya amblas karena kondisi jalan yang rusak berat. Empat penumpang yang merupakan wartawan sudah kelelahan.

Mereka telah menempuh perjalanan sepanjang 200 kilometer dari Pontianak, yang memakan waktu sekitar delapan jam. Namun semangat untuk mengenal Subsuku Dayak Angan lebih dekat mengalahkan rasa lelah tersebut.

Sekitar pukul 16.00 WIB, rombongan tiba di Desa Angan Tembawang. Kami disambut tuan rumah yang juga Sekretaris Desa Donatus Dasol. Setelah berkenalan dengan tuan rumah, kami meluncur ke rumah Tumenggung Benua Angan Lorensius Lamat sekitar 200 meter dari tempat kami menginap.

Kami diterima dengan baik oleh Tumenggung. Setelah memberitahu maksud kedatangan, Tumenggung lantas bercerita mengenai kehidupan masyarakat Dayak Angan.

Benua Angan terdiri atas tujuh kampung, yakni Rumah Angan, Angan Bangka, Angan Tutu, Angan Landak, Angan Limau, Angan Pelanjau, dan Angan Rampan.

Desa Angan Tembawang terletak di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak. Cukup sulit menjangkau desa ini karena sarana transportasi jalan belum ada. Bahkan beberapa jembatan penghubung juga sudah rusak parah. Jarak tempuh dari Kota Ngabang sekitar 30 kilometer, yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan jalan kaki.

Lamat menceritakan Dayak Angan telah empat kali berpindah sebelum menetap di aliran Sungai Angan. Sebelumnya Orang Angan mendiami tempat bernama Mawangk (Tembawang, red) Karangking. Namun di tempat itu, Orang Angan tidak bertahan lama. Mereka kemudian pindah ke Mpata.

Di tempat ini, Orang Angan melakukan aktivitas berladang dan bersawah untuk mempertahankan hidup. Orang Angan memilih hidup di Mpata cukup lama. Namun, Mpata merupakan dataran rendah, maka banjir sering datang. Melihat kondisi itu, Orang Angan kemudian pindak ke Ma' Mbansa.

Mereka memilih tempat itu karena dekat dengan aliran Sungai Rentawan. Sungai ini mengalir hingga ke Sungai Landak. "Di Ma' Mbansa, Orang Angan sering diserang oleh babi siluman," kata Lamat.

Rupanya serangan babi siluman itu membuat penghuni kampung resah. Mereka akhirnya tidak tahan terhadap serangan itu, karena ada beberapa warga kampung yang meninggal. Mereka kemudian memilih berpindah lagi.

Tempat yang dipilih adalah aliran Sungai Angan, yang sekarang menjadi perkampungan Orang Angan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Be Aye. Hingga kini, mereka masih terus melestarikan budaya nenek moyang.

Salah satunya adalah ritual adat 'notongk' yang dilakukan setiap tahun. Ritual ini untuk menghormati Abak (tengkorak manusia, red) yang dipusakakan. Bagi Orang Angan, upacara 'notongk' harus dilakukan untuk meminta perlindungan dan keselamatan terhadap seisi kampung (*)

Read more...

Kami Merindu pada Listrik

MASYARAKAT Angan Tembawang, Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak mendambakan listrik. Harapan akan adanya penerangan di desa itu, akan melengkapi kegembiraan masyarakat Angan Tembawang.

Soalnya, jalan penghubung antara Desa Jelimpo menuju Kecamatan Batang Tarang, Kabupaten Sanggau telah digusur. Kendati masih sebatas pengerasan saja. Namun, tidak berlebihan rasanya kalau masyarakat Angan Tembawang minta adanya aliran listrik.
Adakah pemerintahan tertinggi di Desa Angan Tembawang telah membuat draft untuk pengadaan listrik desa itu? Ataukah, pejabat tertinggi di daerah itu sudah mengusulkan ke pihak terkait soal pengadaan listrik tersebut? Melihat keadaan masyarakat di desa tersebut, maka nampaknya animo masyarakat untuk jadi pelanggan cukup besar.
Soalnya, beberapa warga sudah ada yang memiliki mesin listrik sendiri, seperti Genset. Setidaknya, hal itu dapat jadi indikator, untuk pihak terkait melakukan studi kelayakan soal pengadaan listrik desa tersebut.

Rasanya wajar, bila harapan masyarakat Angan Tembawang tersebut dapat direalisasikan oleh pihak yang berkompeten. Yang jelas, kehadiran listrik desa itu akan membantu masyarakat Angan Tembawang dalam segala bidang, terutama pendidikan. Ditambah lagi, informasi yang ada di luar dapat diketahui oleh seluruh warga Desa Angan Tembawang. (*)

Read more...

Sunday, July 29, 2007

Korban Tragedi Mandor Berdarah

Jepang telah membantai kaum cerdik pandai. Ribuan keluarga menangis karena kehilangan orang yang dicintainya. Rakyat bumi Khatulistiwa mengutuk tragedi berdarah yang menghilangkan satu generasi intelektual daerah.

Sebuah pagi di kawasan Pasar Tengah, Pontianak. Jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Lim Kian Chon asyik bermain sepakbola bersama sebayanya di halaman rumah tingkat dua. Usianya baru sembilan tahun.

Di ruang tamu, Lim Bak Hwat mengendong Lim Kiam Ciu yang usianya baru sembilan hari. Masih merah. Lim Kiam Ciu adalah adik bungsu Kiam Chon. Keduanya menjadi saksi sejarah penangkapan ayahnya oleh serdadu Jepang pada 18 Agustus 1944.

Kian Chon yang asyik bermain sepakbola kaget melihat belasan serdadu Jepang datang. Ia pun tak sempat untuk memberi salam hormat. Salam yang harus diberikan ketika para penjajah itu lewat.

"Bukannya memberi salam hormat. Kian Chon malah masuk ke rumah. Jepang ikut masuk. Begitu bertemu bapak, Jepang marah-marah, bahkan langsung menangkapnya. Karena bapak masuk daftar yang harus dihabisi," kata Lim Kiam Ciu yang sekarang telah berusia 63 tahun.

Di ruang tamu ada sebuah bantal. Seorang serdadu mengambilnya dan membuka sarungnya. Kemudian sarung itu disungkupkan ke kepala Bak Hwat. Lantas mereka membawa Bak Hwat. Ia sudah hilang. "Kami hanya menerima kabar kematiannya. Kami yakin bapak dihabisi dan dibawa ke Mandor," kata Kiam Ciu yang kemudian mengganti namanya menjadi Alexander Marsudi Halim.

Hari itu, Bak Hwat baru pulang dari Desa Parit Baru. Di tempat itu, Bak Hwat bersembunyi karena sudah tahu bakal dihabisi Jepang. Rupanya Bak Hwat rindu bertemu anak-anaknya. Satu bulan bersembunyi, ia memilih pulang. Tak dinyana pertemuan itu menjadi akhir segala-galanya.

Lim Bak Hwat adalah seorang Kepala Cen Chiang Cung Suei (sebuah sekolah setingkat SMP) yang lokasinya sekarang menjadi Pasar Cempaka, Kapuas Indah. Sebagai cerdik pandai Tionghoa, Bak Hwat dianggap berbahaya oleh Jepang. Ia pun menjadi bagian dari pembantaian tersebut.

Lim Bak Hwat tidak sendiri. Bersamanya ada sejumlah pejabat Tionghoa yang dibunuh. Di antaranya, Lim Bak Khim. Ia seorang lurah di kawasan Pasar Seroja, Pontianak. Bak Khim juga jadi incaran Jepang karena posisinya yang strategis.

"Bak Khim diminta pergi ke Semarang oleh sepupunya. Karena tahu kalau Bak Khim hendak ditangkap. Saat berkemas siang hari untuk pergi malamnya, Jepang datang dan menangkapnya," kata Lim Mui Jun, menantu Bak Khim.

Bak Khim mempunyai sepupu yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit. Lim Bak Choi, nama dokter itu. Ia yang membocorkan rahasia Jepang itu kepada Bak Khim. "Ia mengirim surat yang isinya meminta Bak Khim pergi. Ia juga minta agar isi surat itu dirahasiakan demi keselamatannya. Amanah itu dijaga Bak Khim. Supaya Jepang tidak tahu, surat itu ditelannya," kata Lim Mui Jun.

Begitu tahu keluarganya dibunuh, Bak Choi menolak bekerja di rumah sakit. Jepang curiga dengan keputusan itu. Merasa dicurigai, Bak Choi memilih lari. Belum sempat melarikan diri, Jepang menangkapnya.

Ia pun turut jadi korban pembantaian massal tersebut. Kini, Lim Kiam Ciu sudah dewasa. Rambutnya sudah memutih. Walau masih merah, Kiam Ciu merasakan kegetiran tragedi itu. Tapi Kiam Ciu tidak sendiri. Ribuan keluarga lainnya juga mengalami kegetiran itu. (*)

Read more...

Thursday, July 19, 2007

RIWAYAT TENUN IKAT HINGGA KE EROPA

Era 1980, tenun ikat milik Suku Dayak dinilai kain terindah di dunia. Keberadaannya kian langka. Kain-kain terbaik dan tua sudah dijual ke luar daerah. Para penenun juga semakin tua dan jumlahnya semakin sedikit. Mereka tidak menurunkan keahlian itu kepada ahli warisnya, sehingga terancam punah. Namun begitu, riwayat tenun ikat ini berhasil menembus pasaran eropa.

Akhir Juni 2006, Paulina mengikuti Indonesia Product Expo di Pontianak Convention Centre. Wanita 32 tahun itu sedang menenun ketika saya menemuinya. "Ini pesanan dari Wakil Bupati Landak (Adrianus, red)," kata Paulina ketika saya coba tanyakan menenun untuk siapa.

Warga Dusun Umin, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang itu membutuhkan waktu sekitar empat hari untuk menyelesaikan tenunannya. "Itu kalau fokus. Tapi biasanya hanya sampingan, sehingga lamanya menenun hingga tiga bulan untuk satu meter kain," tambahnya.

Kabupaten Sintang merupakan satu dari 13 kabupaten di Propinsi Kalimantan Barat. Terletak kurang lebih 395 Kilometer dari Ibukota Propinsi, Pontianak, dan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia.

Sintang bisa dijangkau dari Pontianak melalui jalan darat dengan waktu tempuh sekitar sembilan jam. Kabupaten seluas 22.113 kilometer persegi atau 15 persen dari luas total Propinsi Kalimantan Barat ini dihuni oleh 490.359 penduduk di mana 49 persen di antaranya adalah perempuan, dengan tingkat kepadatan penduduknya mencapai 22 jiwa per kilometer persegi.

Mayoritas masyarakat Sintang berasal dari etnis Dayak. Mereka tersebar di sepuluh kecamatan dan tinggal di kampung-kampung yang masih terbatas aksesnya terhadap transportasi, pendidikan, kesehatan maupun pasar.

Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dengan mengelola lahan untuk ladang, kebun karet, dan kebun buah-buahan. Dari berladang, penduduk memperoleh beras sebagai makanan pokok. Akan tetapi hasil berladang cenderung menurun karena lahan yang dapat dikelola menjadi ladang semakin sedikit dan semakin jauh lokasinya.

Hasil panen dalam setahun rata-rata hanya bisa memenuhi kebutuhan untuk tiga sampai lima bulan saja. Hanya beberapa kepala keluarga saja yang hasil panennya cukup untuk kebutuhan satu tahun. Paulina adalah salah satu penenun yang tersisa.

Ia menjaga warisan ibunya secara otodidak. Mulai belajar menenun sejak usia 15 tahun. "Ini menjadi pilihan karena tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. Saya cuma tamat SMP saja," kata Paulina.

Wanita yang bercita-cita ingin menjadi biarawati ini malah menikmati pekerjaan barunya. Dengan tenun ikat, Paulina bisa menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan bisa berkeliling Indonesia. "Saya belum pernah ke luar negeri. Ingin sekali rasanya," Paulina seperti ingin mewujudkan impiannya.

Catatan majalah Handicraf Indonesia, Waktu pengerjaan tenun ikat bervariasi tergantung panjangnya. Terkadang hingga tiga bulan. Lama waktu pengerjaan karena rangkaian prosesnya yang panjang: penyiapan bahan baku, merentang benang, membuat motif, mewarnai benang dengan pewarna alam atau pewarna sintetis, menenun, kemudian menjualnya.

Bahan baku utamanya benang katun dengan pilihan warna dominan merah dan hitam. Ciri khas bahan dan warna ini sama dengan tenun Iban, hanya pemintalan benangnya yang berbeda.

"Kalau tenun Iban benangnya bisa lapis tiga, sedangkan tenun ikat Sintang hanya lapis satu atau dua saja sehingga kainnya lebih lembut," terang Imanul Huda, PT People, Resources, and Conservation Foundation (PRCF) dalam sebuah tulisannya.

Pembentukan motif dilakukan ketika benang mulai dibentang pada alat tenun, kemudian mulai dibuat pola motif dengan cara digambar. Pewarnaan benang tenun bisa memakai pewarna alami dan sintetis.

Untuk pewarnaan alami merah, biasanya menggunakan buah mengkudu atau lontar, sedangkan hitam dari tarum. Proses pewarnaan dilakukan dengan cara merebus bahan-bahan pewarna dalam air dan ketika mendidih baru benang-benang itu dicelupkan. Setelah proses ini, benang dikeringkan dan baru bisa ditenun menjadi kain.

Menurut Gillow dalam bukunya yang diterbitkan pada 1999, tenun ikat merupakan budaya yang dikembangkan oleh komunitas etnis Dayak di Kalimantan Barat. Tenun ikat adalah sebuah teknik menenun dengan pola kain dibuat dengan mengikat benang dengan benang penahan celup.

Benang yang telah diikat ini dicelup berkali kali untuk memperoleh pola yang diinginkan. Benang yang telah berpola ini lalu ditenun. Teknik ikat disebut-sebut sebagai teknik celup tertua di dunia.

Akhir 1980-an kain tenun ikat sulit dijumpai. Banyak kain tua yang dijual kepada pembeli dari luar seiring dengan populernya kain ini di Eropa dan Amerika. Penenun juga sudah semakin langka di tanah asalnya. Kain-kain tua hanya bisa dijumpai pada keluarga-keluarga yang masih menghargai kain sebagai warisan nenek moyang yang harus disimpan.

Seorang biarawan, Pastor Jacques Maessen mulai membangun kegiatan yang melibatkan beberapa keluarga. Terutama mereka yang tertarik untuk menghidupkan kembali kegiatan menenun. Cukup sulit untuk mengubah pola hidupnya.

Barulah tahun 1999, sejumlah lembaga swadaya masyarakat, membangun kolaborasi dengan dukungan Ford Foundation memulai menghidupkan kembali tradisi menenun. Cukup lama juga untuk benar-benar menghasilkan tenun sehingga eksis sampai sekarang. Upaya para relawan ini membuahkan hasil.

Saat ini, orang Sintang bangga mengoleksi dan memakai tenun ikat. Hasil tenunannya juga mudah diperoleh. Apalagi ada sejumlah komunitas penenun yang bergairah menghasilkan karya-karya berkualitas.

"Ada orang barat yang pesan. Mereka dari Eropa, Amerika, Belanda" kata Paulina yang tergabung dalam Koperasi Kerajinan Tenun Ikat 'Jasa Menenun Mandiri' di tanah kelahirannya.

Awalnya hanya ada 40 penenun. Mereka tersebar di lima desa: Ensaid Panjang, Baning Panjang, Ransi Panjang, Umin dan Menaung. Rata mereka dari usia muda karena yang tua sudah tidak ada lagi.

"Saya juga mengajar anak untuk menenun. Sambil dia sekolah. Setiap pulang sekolah dia membantu," kata Paulina yang bermatapencaharian seorang petani.

Paulina hanya satu dari begitu banyak penenun muda. Walau belajar secara otodidak, Paulina sadar menenun bisa membuatnya berkeliling Indonesia. Dan, Paulina tetap eksis.

Di tangan Paulina, riwayat tenun ikat hingga ke Eropa.

Read more...

AJAK ANAK MEMBACA

Baca... Baca.... Bacalah
Sekarang aku sudah membaca
Ada apa dengan gunung, kupu-kupu, pohon, langit, air
Harimau, bayi, dan cinta.

Penggalan puisi buah karya Ine Komariah itu dibacakan oleh seorang wanita berkerudung pink. Tangannya bergerak lamban seperti menari mengikuti irama puisi yang sedang dibacanya. Bibirnya terus menebar senyum.

Tepuk tangan memecah kesunyian lamin-rumah khas Kalimantan Timur-ketika wanita berkerudung itu mengakhirinya puisinya.

Wanita berkerudung itu bernama Yessy Gusman, pemilik Yayasan Bunda Yessy, yang terus berjuang meningkatkan minat baca anak-anak di pinggiran Ibukota Indonesia.

Puisi itu dipersembahkan Yessy Gusman ketika menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Kalbar, Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat, Senin (9/5).

Perempuan berusia 42 tahun itu memberikan nama 'Rumah Nusantara' pada lamin-nya yang berada di Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan.

"Saya hanya bisa mempersembahkan puisi ini. Mudah-mudahan bisa menggugah semangat baca semua orang," Yessy ketika mengakhiri puisinya.

Yessy Gusman memilih perkampungan padat dan kurang ruang bermain untuk menempatkan Taman Bacaan Anak-nya.

TBA pertama yang didirikan di Gang Porti RT 08 RW 01, Kelurahan Rawajati, Jakarta Selatan, bernama "Namira", pada 4 Desember 1999, telah berkembang menjadi TBA-TBA yang tersebar luas di wilayah Banten, Kepulauan Seribu, Garut, Brebes, hingga ke luar Jawa. Menurut Yessy, minat membaca harus 'didobrak' dari diri sendiri.

"Apa yang bisa kita lakukan, lakukanlah tanpa menunggu apa yang pemerintah lakukan. Untuk merangsang minat baca, pilihlah topik yang disukai," katanya.

Bagi Yessy, taman bacaan tidak perlu tempat mewah. "Bisa di garasi, di sekolah, atau di bawah pohon rindang dengan hanya bawa kotak buku. Lama-lama orang akan datang," ujarnya.

Ia mencontohkan dirinya sendiri. Dari 40 buku yang dimilikinya saat pertama mendirikan taman bacaan, kini koleksinya telah mencapai 800 ribu buku. Jaringan taman bacaannya pun telah menjadi 200 lokasi di seluruh Tanah Air.

Perempuan bernama lengkap Yasmine Yessy Gusman yang ngetop sebagai aktris pada era delapan puluhan kemudian membawa rombongan DPRD Kalbar menuju TBA Namira-nya. Kami harus melewati lorong-lorong sempit dengan berjalan kaki.

Ruang baca hanya berukuran tiga kali tiga meter, yang dipenuhi buku-buku yang digemari anak-anak. Anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar terlihat membaca buku-buku yang ada di TBA Namira.

Mereka mengaku kehadiran TBA itu sangat membantu dalam meningkatkan minat baca masyarakat pinggiran Jakarta.

Preses, misalnya, bocah yang tercatat sebagai seorang siswa kelas satu sekolah dasar itu selalu berkunjung ke TBA Namira. "Pulang sekolah selalu ke sini. Baca-baca komik, liat-liat gambar," katanya.

Bagi Bunda Yessy, harus ada upaya untuk melibatkan para seniman dalam menggali minat baca anak-anak. Sebab, anak-anak lebih suka bermain-main dengan seniman, sehingga mereka bisa berkreativitas seperti layaknya seorang seniman menumpahkan kreativitasnya.

"Mencetak bahan bacaan dengan metode kartun juga sangat membantu menggugah minat baca anak-anak," ungkapnya.

Bunda Yessy hanya sebagian dari orang-orang populer yang peduli terhadap gerakan gemar membaca.

Kalimantan Barat membutuhkan 'Bunda Yessy' untuk membuka cakrawala anak agar gemar membaca.

"Harus ada gerakan sosial dari masyarakat Kalbar untuk menghadirkan taman bacaan, sehingga angka melek huruf bisa lebih meningkat," kata anggota Komisi D DPRD Kalbar Katarina Lies usai mengunjungi TBA Namira. (*)

Read more...

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP