Friday, February 29, 2008

Surat Panggilan

Ini surat panggilan ketika hendak bergabung dengan Harian Pontianak Post. Tujuh calon awak redaksi yang dipanggil, hanya lima saja diterima. Dua yang tidak lulus: Yureta Dian Ristanti SE dan Hidayat SE. Lima orang yang lulus kemudian mengikuti masa percobaan selama tiga bulan.

Lima orang itu turun pada 13 Mei 2002. Saya termasuk yang lima orang tersebut. Hari pertama bikin berita berjudul, “Sapi Jangkis.” Hingga tiga bulan masa percobaan, lima sersan jurnalis ini tersisa dua orang: Donatus Budiono dan Mustaan. Ketika masa bekerja lima bulan, Mustaan ditugaskan sebagai wartawan di Harian Kapuas Pos. Hingga sekarang.

Read more...

Monday, February 25, 2008

Republik Mati Lampu

Listrik byarpet lagi. Setiap hari secara bergiliran. Ibu rumah tangga menggerutu. Sinetron kesayangannya tak bisa ditonton. Rumah gelap. Lilin, pelita, dan lampu suar tak sanggup mengganti. Jika lalai, bahaya kebakaran mengancam. Ahhh...seperti hidup di Republik mati lampu.

Bagi warga Kota Pontianak, byarpet sudah jadi menu utama setiap hari. Jadwal pemadaman disusun bergiliran. Kadang pagi. Kadang tengah hari. Tak jarang malam hari. Setiap hari selalu diwarnai listrik mati.

Setahun lalu, ketika intensitas listrik mati cukup tinggi, warga mendatangi rumah dinas Kepala Wilayah PT PLN (Persero). Jumlahnya 50 orang. Mereka memprotes jadwal pemadaman listrik yang tak terkendali. Aksi protes itu berakhir dengan perusakan beberapa fasilitas rumah.

Kemarahan warga haruslah menjadi catatan pada masa mendatang. Protes itu mesti diingatkan agar tidak ada lagi jadwal pemadaman. Perlu dijajaki peluang investasi kelistrikan di daerah ini. Cukup banyak potensi yang bisa dikonversikan menjadi sumber energi listrik. Tinggal bagaimana mengelolanya.

Pertengahan November 2007, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara mulai dikerjakan. Ia akan menghasilkan listrik berkekuatan 2x25 megawatt di Parit Berkat, Wajok Hilir, Kabupaten Pontianak.

PT Equator Manunggal Power (EMP) sebagai investor murni, beserta PT PLN bekerja dalam suatu kontrak kerja untuk 25-30 tahun ke depan akan memenuhi kebutuhan listrik seluruh masyarakat Kalbar. Pembangkit tersebut dibangun di atas tanah seluas 13 hektar.

Diperkirakan pembangunan PLTU batubara ini selesai 24-30 bulan ke depan. Pembangkit yang menelan biaya Rp600 miliar tersebut diharapkan mampu menyediakan listrik bagi masyarakat kota hingga pedalaman.

Propinsi Kalimantan Barat akan memperoleh bantuan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebanyak 1.636 unit pada 2008. Kapasitas tiap unit mencapai 50 watt. Penempatan akan mengutamakan daerah yang susah dijangkau dan kepulauan.

“Realisasinya masih menunggu masukan dari kepala desa, kecamatan. Ada kriteria yang harus dipenuhi. Semua usulan yang masuk akan diseleksi lagi. Lebih diutamakan daerah-daerah yang belum terjangkau listrik,” ungkap Iskandar Zulkarnaen, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kalbar

Kalbar memang sudah harus mandiri karena kebutuhan listrik pasti terus bertambah. Jangankan untuk industri, pemasangan instalasi untuk pembangunan RSS saja saat ini harus antre. “Yang kita pikirkan adalah agar saudara kita di pedalaman juga bisa menikmati listrik,” ujarnya.

Menurut Iskandar, PLTS tersebut merupakan bantuan dari Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Tahun 2006-2007, daerah kepulauan Kalbar pernah mendapat bantuan 500 unit PLTS.

Selain itu, dua pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dengan kapasitas 0,5-1 MW akan dibangun di pedalaman Kalbar. Salah satunya terdapat di Kabupaten Sekadau. Dananya berasal dari APBD Kalbar 2008 yang menelan dana Rp800 juta-Rp1 miliar per unit. Pembangunan pembangkitnya menggunakan dana APBD Kalbar, sedangkan pembangunan jaringannya dibebankan kepada kabupaten/kota.

Ia menjelaskan tenaga mini/mikrohidro mencapai sekitar 500 MW namun yang telah dimanfaatkan saat ini baru sekitar 54 MW. "Untuk lebih meningkatkan penggunaan tenaga mikrohidro ini, pemerintah telah mengambil berbagai terobosan khususnya pada aspek kebijakan, pengembangan institusi dan pengembangan sumber daya manusia," papar Iskandar.

Dengan rasio elektritikasi yang baru mencapai rata-rata 52 persen, kata dia, maka tenaga mini/mikrohidro sangat prospek untuk dikembangkan khususnya di wilayah perdesaan maupun di wilayah yang terpencil yang sukar diakses oleh jaringan transmisi PT PLN (Persero).

Pemanfaatan tenaga mini/mikrohidro akan terus ditingkatkan melalui berbagai kerjasama termasuk memanfaatkan dana Clean Development Mechanism. "Bahkan proyek-proyek mikrohidro dapat memenuhi persyaratan untuk mendapatkan fasilitas "fast track" sehingga dapat lebih cepat diimplementasikan," katanya.

Kalimantan Barat memiliki potensi untuk mengelola sendiri tenaga listrik. Di Sambas, akan dibangun PLTU batubara dengan kapasitas 2 x 7 MW. Proyek ini diperkirakan akan menelai dana hingga US$14 juta. Kemudian, PLTU Singkawang batubara dengan kapasitas 2 x 7 MW, yang diperkirakan akan menelan dana hingga US$14 juta.

Tak hanya itu, Kalbar juga berpotensi dibangun dua unit PLTU batubara di Parit Baru dengan kapasitas 2 x 55 MW dengan dana US$110 juta dan kapasitas 2 x 25 MW dengan kebutuhan dana sekitar US$50 juta.

Peluang membangun satu unit PLTU Pontianak tanah gambut dengan kapasitas 2 x30 MW juga cukup tinggi. Dana yang dibutuhkan mencapai US$60 juta. Kemudian PLTU batubara di Ketapang dengan kekuatan 2 x 7 MW, diperkirakan akan menelan dana sebesar US$14 juta.

Selain itu, Kalbar juga berpotensi memiliki PLTU batubara di Sintang dengan kekuatan 2 x 3,75 MW, dengan kebutuhan dana sebesar US$7,5 juta. Sehingga total dana yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik di Kalbar mencapai US$404 juta.

Rakyat Kalbar punya cita-cita. Pada masa mendatang, tak ada lagi kisah mati lampu. Kaum ibu tidak lagi ketinggalan episode sinetron kesayangan. Cerita kulkas, televisi, radio yang rusak karena hentakan arus listrik.

Dan, rakyat Kalbar tidak ingin hidup di Republik mati lampu. Semoga.

Read more...

Friday, February 22, 2008

bOl@ p@siR

Sungai mengering. Pasir putih terhampar. Bocah berlarian. Berenang. Mandi. Bermain. Menendang bola. Riang. Berhamburan menyambut senja.

Sunset yang perlahan tertutup gelap. Semilir angin hembuskan kesegaran. Kaki-kaki mungil meninggalkan jejak. Kemudian terhapus oleh ombak kecil. Sampan-sampai berlomba menuju tepian melawan arus.

Read more...

Monday, February 18, 2008

Ayah

Ini ayah saya. Ia sudah meninggal pada Januari 1999, ketika usianya mencapai 75 tahun. Ia meninggal tidak mendadak. Sakit stroke yang dideritanya selama empat tahun.Namanya Djaban. Hanya tamatan Sekolah Rakyat. Punya istri bernama Latji, yang tak pernah mengenyam bangku sekolah. Buah perkawinannya dianugerahi tujuh anak: empat laki-laki dan tiga perempuan. Semuanya sudah kawin.

Dari tujuh anaknya, hanya dua yang berhasil sarjana. Saya salah satunya. Anaknya yang paling bungsu. Satu lagi hanya diploma tiga bidang keagamaan. Ayah saya bukan penganut Katolik yang taat. Awalnya ia hanya penganut aliran kepercayaan. Tapi semua anak-anaknya masuk Katolik. Ia pun ikut di dalamnya. Bahkan ia dibaptis setelah lima anaknya dibaptis. Aneh kan?

Bertani jadi pilihan kerjanya. Kata orang, ia pernah menjadi kepala rumah betang. Ayah juga pernah menjadi tabib. Ia pandai mengobati orang. Ketika anak-anaknya jatuh sakit, ia sendiri yang menjadi tabibnya. Tak jarang ia harus keluar malam karena ada warga yang minta diobati. Saya sering ikut.

Waktu muda, ayah paling jago mencari ikan dengan cara mukat. Waktu kecil, kami tak pernah lepas dari lauk ikan. Kalau musim mencangkul, ia paling senang mencari kodok. Kadang hasil tangkapannya bisa untuk makan tiga hari. Banyak sekali ya? Padahal kami termasuk keluarga besar.

Tergolong penyuka minuman keras: arak. Kadang suka mabuk. Dua anaknya ikut. Tapi bukan saya. Mau sih, tapi tidak suka mabuk. Tak seperti orang kebanyakan. Ayah kalau mabuk tidak reseh. Biasanya langsung tidur saja. Tapi pagi ia bangun. Menoreh getah. Hasilnya untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Nah, kalau yang ini saya termasuk di dalamnya.

Sejak menderita stroke. Ayah tak pernah lagi menoreh. Tak pernah lagi mabuk. Tak suah lagi mukat, juga jadi tabib. Ia hanya terbaring di tempat tidurnya. Sedih ya? Waktu itu saya baru mau kuliah. Berat kan? Hanya tekad dan semangat yang mendorong saya. Kalau tidak, mungkin blog ini juga tidak ada.

Setahun pertama, ayah masih bisa duduk. Apa yang dikerjakannya? Menepuk lalat dengan rotan yang dianyamkan. Setiap hari dihitungnya. Kalender yang tergantung di dinding menjadi media tulisnya. Rajin sekali. Saya tidak tahu, mungkin ayah benci lalat karena suka menggelikan. Saya pun begitu. Tak suka lalat. Kata ilmuan, seekor lalat bawa 6.000 kuman di kakinya. Inilah yang membuatku membencinya.

Hingga meninggal, ayah telah membunuh sekitar 1.879 ekor lalat. Itu yang saya catat di kalender tempatnya mencatat. Seingat saya, paling tidak ada 10 alat penepuk lalat yang dipakainya.

Begitulah.

Read more...

Friday, February 8, 2008

???????

Ketika melakukan penanaman di areal perkebunan milik PT Sari Bumi Kusuma (SBK). Foto diambil pada 2003. Lokasi perkebunan ini berada di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Katingan. Setiap orang, baik pejabat maupun awam yang datang jauh-jauh dari perkotaan diberi kesempatan untuk menanam. Saya beruntung bisa menjadi bagian dari penanaman itu. Harapannya hijau lestari terjaga di hutan yang sudah gundul. PT SBK melakukan penebangan dengan pola tebang pilih tanam jalur.

Read more...

Thursday, February 7, 2008

Imlek Jalan Said

------------------------
Ada yang berbeda dari perayaan Imlek tahun ini. Terpilihnya Christiandy Sanjaya sebagai Wakil Gubernur Kalbar memberikan warna baru. Ada gelaran open house pertama kali oleh pejabat pemerintah di propinsi ini. Bagaimana suasana berbagi suka cita Imlek dengan masyarakat tersebut?

------------------------

RUMAH keluarga Christiandy Sanjaya sibuk. Di sebuah rumah beton yang berwarna abu-abu. Tenda merah menggantung di pekarangan. Kursi-kursi warna merah berbaris rapi di bawah tenda yang tiangnya dibalut kain merah juga.

Rumah itu berada di Jalan GM Said. Orang-orang Pontianak bilang itu kompleks Akcaya. Letaknya tak jauh dari Masjid Mujahidin. Ramai mobil terparkir di sisi kiri kanan jalan. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) prat prit dengan peluitnya, memberi aba-aba kepada pengemudi untuk parkir kendarannya.

Di bawah tenda, di atas kursi, orang-orang menikmati penganan seadanya. Penganan tradisional yang sedap untuk disantap. Orang-orang datang dari beragam asal. Tua muda, laki perempuan, bersatu merayakan Imlek 2559. Saling rangkul, bersalaman, tegur sapa, tertawa, bersenda, dan bercerita.

Christiandy mengembang senyum. Mengulurkan tangan menyambut ucapan selamat dari sejawat. Baju merah dengan celana hitam, ia menganggukan kepala memberi sapa kepada tamunya. Pun begitu dengan istrinya, Karyanti Djung. Mengenakan busana serba merah, khas keluarga Tionghoa. Keduanya berdiri di bawah tenda menunggu kehadiran tamu.

Cornelis juga datang. Christiandy adalah tandemnya memimpin Kalimantan Barat lima tahun mendatang. Ia disambut dengan ramah. Ketika keduanya bersalaman. Blitz-blitz kamera digital berseliweran. Mereka mengabadikan momen penting itu. “Selamat Imlek. Gong xi fa chai,” bisik Cornelis.

Sama dengan pengunjung lainnya. Cornelis juga menikmati hidangan. Ia datang bersama sang istri, Federika. Juga anak-anaknya. Cornelis mengenakan kemeja merah yang ditutupi jas hitam. Sang istri berbusana merah. Tak kurang satu jam ia bersilaturahmi. Pukul 10.45 WIB, Cornelis pamit pulang.

Warga terus berdatangan. Bergantian. Dari pejabat hingga pelajar. Pegawai-pegawai pemerintahan. Dari eselon satu hingga pegawai honorer. Juga orang-orang awam. Mereka berdatangan, mengulurkan tangan. Mereka ingin memberikan selamat kepada empunya rumah. Penyaji makanan sibuk. Yang habis ditambah. Pisang, lengkeng, jeruk, terhidang.

“Setiap tahun, saya selalu rayakan Imlek. Tahun ini agak spesial karena ada open house. Ini kesempatan yang baik untuk bersilaturahmi. Mudah-mudahan tahun-tahun mendatang menjadi lebih baik,” kata Christiandy ketika kami hendak pamit dari kediamannya.

Christiandy adalah keluarga Tionghoa yang pertama menjadi wakil gubernur, hasil pemilihan langsung pada 15 November 2007. Prestasi sekaligus sejarah bagi orang Tionghoa di Indonesia. “Kebetulan saya berlatar belakang Tionghoa, saya milik semua orang. Tidak ada perbedaan, semua mendapat perlakuan yang sama,” kata dia ketika saya temui beberapa hari sebelum perayaan Imlek 2559. (*)

Read more...

Imlek, Cap Goh Meh, dan Tatung


Imlek datang lagi. Kali ini almanaknya 2559. Shionya tikus. Orang Tionghoa bersuka menyambutnya. Harapan baru dan semangat baru. Selepas imlek ada Cap Goh Meh. Perayaan setelah 15 hari dari Imlek. Ada tatung yang kebal benda-benda tajam. Rangkaian ketiganya bersatu dalam menyambut pergantian tahun baru China.

Sebuah siang di Jalan Siaga. Tak ada yang istimewa, semua apa adanya. Tapi siapa menyangka kalau jalan di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Pontianak itu memiliki komunitas seni: tatung. Bagaimana mereka menikmati kehidupannya?

Jalan masuk ke perkampungan Siaga tak begitu mulus. Aspal yang ada sudah mulai mengelupas, bahkan berlobang. Walau begitu, penghuni yang mayoritas warga Tionghoa itu tetap menyukainya. "Inilah jalan utama kami," kata Ajung, seorang montir di kawasan itu.

Siang itu, aktivitas warga di Jalan Siaga cukup sibuk. Mereka akan merayakan Imlek 2558 dan Cap Goh Meh. Mereka berbenah untuk menyambut tahun baru miliknya. Ada yang membersihkan rumahnya, menghiasi depan rumah dengan warna-warna khas Tionghoa, bahkan ada yang merenovasi rumah.

Sama halnya dengan komunitas Islam yang merayakan lebaran. Kristen yang merayakan Natal dan Tahun Baru (masehi). Pun begitu warga Tionghoa. Mereka merayakan Imlek dan Cap Goh Meh dengan meriah. "Tahun yang penuh makna dan warna," kata Ajung.

Jalan Siaga tidak memiliki keistimewaan. Hanya ada belasan gang yang tersebar di mulut hingga ujung jalan. Tapi, kawasan pecinan pinggiran Kota Pontianak itu memiliki banyak tatung atau orang yang memiliki keahlian menyembuhkan penyakit dari kalangan etnis Tionghoa.

Thomas Budianto, semacam juru bicara dari tatung dengan "Dewa" Lie Pek Kong di Gang Siaga Mandiri, di kawasan tersebut setidaknya ada belasan tatung. Setiap tatung memiliki dewa masing-masing yang dianggap mempunyai kemampuan paling hebat dan manjur.

Untuk Lie Pek Kong, tatungnya bernama Amin (44 tahun), yang sehari-hari bekerja sebagai pemborong. "Kalau untuk mengobati orang sakit, baik karena penyakit atau sesuatu yang tidak tampak, saya hanya menerima malam hari karena siang hari harus bekerja," ujar Amin yang sejak tahun 1999 lalu mendapat "wahyu" menjadi tatung.

Terkadang Amin harus mengobati pasien hingga larut malam, bahkan dini hari. Ia mengaku sulit menolak jika ada permintaan karena tatung harus menolong orang lain. Akan tetapi, pada pemeriksaan awal tak harapan, maka Amin akan berterus terang.

Beberapa dari tatung ini tidak memiliki pekerjaan tetap. Sukiman S atau Chia Tien Sung (57 tahun), misalnya, mengaku tidak punya pekerjaan selain menjadi tatung. Tapi Chia tidak hanya mengobati orang sakit. Jasanya bisa untuk membersihkan gudang, perkantoran atau tempat usaha dari gangguan roh-roh jahat yang menghambat perkembangan usaha.

"Sudah beberapa gudang yang saya bersihkan dan telah menunjukkan hasil. Usaha si pemilik menunjukkan peningkatan untung dibanding sebelumnya," kata Sukiman. Dia telah berprofesi sebagai tatung sejak usia delapan tahun. "Roh-roh jahat juga menyebabkan karyawan mudah sakit dan kerap kerasukan sehingga mengganggu kinerja perusahaan," katanya.

Keahlian seorang tatung cukup beragam. Syamsudin atau Gui Bak Cen (59 tahun), misalnya, mengklaim bisa memulangkan suami atau istri yang kabur dari rumah gara-gara selingkuh atau sebab-sebab lainnya. Namun, ia tidak menolak untuk menyembuhkan orang sakit atau mencoba memperlancar jalan hidup seseorang agar lebih baik, sehat, dan sukses.

Tak ada yang menyangka kalau masa depan berprofesi sebagai tatung. Amin, Sukiman, dan Syamsudin mengalami peristiwa berbeda, sebelum berprofesi sebagai tatung. Sebab tidak sembarang orang bisa menerima 'roh' tatung tersebut. Tak mengherankan, jika Amin, Sukiman dan Syamsudin sangat menikmati keindahan seni tatung itu. Gong Xi Fa Chai.

Read more...

Monday, February 4, 2008

Mencetak Praja di Tanah Sendiri

Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono resmi membubarkan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat pada Oktober 2007. Pemerintah kemudian menunjuk lima wilayah untuk mencetak calon-calon praja tersebut. Belakangan pemerintah memberi peluang empat lagi wilayah untuk membentuk Institut Ilmu Pemerintahan (IIP). Bagaimana peluang Kalbar?

Ketika pertemuan Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (ADEKSI) di Pontianak pada awal Desember 2007, Laurentius Herman Kadir di penghujung jabatannya sebagai Wakil Gubernur Kalbar membisiki Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, agar Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) juga dibentuk di daerah ini.

Kadir merasa perlu membisiki Mardiyanto. Ia tahu Mardiyanto pernah merasakan atmosfir Kalbar ketika masih aktif di militer. Sehingga memiliki ikatan emosional yang kuat. “Dua kali saya bisiki. Saya minta benar agar IIP dibentuk di Kalbar. Daerah ini sangat membutuhkan lembaga yang bisa mencetak praja sendiri,” ungkap Kadir kepada wartawan tiga hari sebelum menyerahkan jabatan wakil gubernur kepada Christiandy Sanjaya.

Walau hanya lisan, ada harapan yang ditawarkan Mardiyanto. Harapan itu berupa berencana menambah empat lagi wilayah pembentukan IIP. “Nah, peluang ini yang harus kita tangkap. Pemprop telah membentuk tim yang diketuai sekda (Syakirman) untuk melakukan lobi kepada pemerintah. Tentu dengan memanfaatkan hubungan baik dengan orang-orang di Depdagri, bantuan anggota DPR dan DPD dari Kalbar,” ujar Kadir.

Pertengahan Januari 2008, Kadir resmi meletakan jabatan wakil gubernur yang disandang sejak 2003. Namun semangat pembentukan IIP di Kalbar terus diperjuangkan. Unit Penanganan Rehabilitasi Sosial (UPRS) Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya sudah disiapkan sebagai lokasi perkuliahan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP). Tim survei dari Departemen Dalam Negeri juga sudah berkunjung ke Pontianak untuk mengecek kesiapan.

”Kita telah menyiapkan penunjang itu. Secara formal, tim pusat sudah meninjau. Mudah-mudahan kita diberikan kepercayaan itu, dan kami optimis. Dengan keseriusan kita menanganinya serta melihat dukungan dari masyarakat, memberikan nilai positif untuk dibangunnya IIP di Kalbar,” kata Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Syakirman.

”Melihat kondisi daerah kita, serta kebutuhan tenaga aparatur yang berlatar belakang pemerintahan, kita berpeluang untuk itu. Kita juga termasuk salah satu provinsi yang mengusulkan. Walau Pulau Kalimantan sudah ada satu yang ditunjuk, tapi kita berharap di Kalbar ada IIP regional,” ujarnya. Pemerintah telah menetapkan Banjarmasin, Kalimantan Selatan sebagai salah satu dari lima wilayah pembentukan IIP pascapembubaran IPDN di Jatinangor.

IIP regional bukan berarti hanya khusus untuk putra-putri dari daerah Kalbar saja, akan tetapi kewenangannya tetap berada di pusat. ”IIP Kalbar tetap bisa menerima dari seluruh Indonesia. Cuma dibedakan saja, jurusan apa yang akan ada di Kalbar,” katanya.

Penetapan UPRS Sungai Ambawang sebagai kampus IIP juga sudah dibahas bersama bupati/wali kota se-Kalbar. Namun lahan tidak mencukupi karena luasnya hanya empat hektar saja dengan 46 ruang. Bangunan juga tidak pas untuk perkuliahan. Masih diperlukan asrama, ruang kuliah, laboratorium, lapangan olahraga, perpustakaan, dan ruang pendukung lainnya.

Sedikitnya dibutuhkan lahan seluas 20 hektar. Ada tiga daerah yang siap menyediakan secara gratis: Kabupaten Pontianak, Bengkayang, dan Kota Singkawang. Namun pilihannya lebih memprioritaskan UPRS Sungai Ambawang.

Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat tidak berjuang sendiri. Dukungan politis dari DPRD juga mengalir. “Kebutuhan tenaga pamong di Kalbar sangat banyak. Pemprop harus berjuang agar IIP ditempatkan di daerah ini. Kami di parlemen siap memberikan dukungan politik,” kata Anggota Komisi A DPRD Kalbar, Mikael Mahin.

Secara geografis, kata Mahin, Kalbar sudah memenuhi kelayakan dan kepatutan. Wilayah yang berdekatan dengan Propinsi Kepulauan Riau, terutama Kabupaten Natuna dan sebentar lagi pembentukan Propinsi Kapuas Raya, sehingga akan ada tiga propinsi yang bergabung untuk mengirim calon mahasiswa di IIP Kalbar tersebut.

“Pertimbangan ini tentunya menjadi masukan dan perhatian dari pemerintah pusat. Hendaknya hal itu bisa menjadi pertimbangan dan lebih melihat kebutuhan ril di wilayah masing-masing,” ungkap anggota Fraksi Partai Demokrat tersebut.
Saat ini, pemerintah telah menetapkan lima daerah yang akan dibentuk IPP, yakni Bukit Tinggi (Sumatera Barat), Jatinangor (Jawa Barat), Mataram (Nusa Tenggara Barat), Makasar (Sulawesi Selatan), dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan). (*)

Read more...

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP