Friday, March 28, 2008

Nominee Dahlan Iskan Award

Hoki Bryan Jevoncia menyapa saya. Bocah fenomenal yang menang lomba desain perangko PBB 2008 memberikan rezeki. Tulisan tentang dia yang saya kirim ke Jawa Pos masuk nominasi ‘Dahlan Iskan Award’ untuk kategori feature. Gembira sekaligus khawatir. Prestasi kecil ini harus dipertahankan, kalau perlu menjadi jawara pada tahun berikutnya.

Oktober 2007, Pemimpin Redaksi Pontianak Post, Salman meminta saya membuat feature tentang Bryan Jevoncia. Ia meminta agar digarap serius. Bikin lebih menarik. Human interest. Terutama keseharian bocah kelas dua SD Suster Pontianak itu.

Saya tertegun. Baru kali ini membuat tulisan yang kemudian dikirim dalam sebuah perlombaan. Sebelumnya tidak pernah. Salman terus mendorong. Saya bilang, “tidak bisa bikin tulisan yang bagus dan layak untuk dinilai dalam sebuah perlombaan.”

Tapi ia terus mendorong, terkadang memaksa. Saya menyerah. Permintaan itu saya penuhi. Saya bicara dengan mama Bryan, Rosiana. Saya katakan mau bikin tulisan serius, tapi ringan tentang Bryan. Dua hari saya riset. Bangun pagi. Menjadi tamu pertama di rumah Bryan.

Saya kunjungi sekolahnya. Bicara dengan kepala sekolah dan guru kelasnya. Lihat gerak geriknya di sekolah. Saya tunggu hingga ia pulang sekolah. Mengikuti perjalanan pulangnya ke toko gorden ibunya. Saya tamu di toko itu, yang tidak membeli dagangannya.

Beruntung mama Bryan percaya kepada saya. Ia bercerita banyak tingkah anaknya. Termasuk graffiti di rumah lamanya di Jalan Surya, Pontianak. Coretan tangan perdana Bryan saya abadikan dengan kamera digital. Sekali lagi saya beruntung. Dinding rumah tempat coretan itu belum dibongkar. Padahal tukang bangunan sedang membongkar rumah pribadinya.

Riset selesai. Cerita Bryan mulai ditulis. Materinya biasa saja. Tidak istimewa. Besoknya, terbit di Harian Pontianak Post. Kata Salman, “Jawa Pos juga memuat tulisan itu.” Saya hanya tersenyum. Bagi saya, tulisan dimuat di Jawa Pos, cukup membanggakan. Mungkin bagi jurnalis lainnya tidak.

Hingga akhir 2007, tak ada kabar mengenai Dahlan Iskan Award itu. Saya tidak juga bertanya. Saya pikir, tulisan itu tidak bisa masuk nominasi, apalagi menang. Tapi dugaan saya meleset. Pertengahan Maret 2008, seorang teman di redaksi Pontianak Post menelpon. Kebetulan hari itu, saya pulang duluan, karena tugas mengetik berita sudah selesai.

Saya sedang berada di Gramedia. Sebuah toko buku di Pontianak. Pergi ke toko buku, mungkin sudah hobi saya. Titi, istri saya bilang, “hobi yang tidak wajar.” Saya cuek. Bagi saya ke toko buku itu bagus. Walau tak membeli, paling tidak bisa membaca sedikit. Kaget ketika ditelpon kalau tulisan itu masuk nominasi.

Saya tak percaya. Salman yang ikut dalam pertemuan di Jakarta, saya telpon. Ia mengiyakan. Tancap gas langsung balik lagi ke kantor. Surprise. Teman-teman berikan ucapan selamat. Tentu, kata-kata, ‘makan-makan’ paling deras mengalir. Saking senangnya, saya bawa bermain pingpong di lantai enam kantor Pontianak Post. Sampai lelah, dan puas.

Besoknya, foto saya nampang di Pontianak Post. Ada yang salut, ngirim pesan singkat, tapi ada juga tidak percaya, bahkan sinis. Ucapan selamat. Saya hanya bilang, “ini prestasi kecil saja. Tulisan itu terbaik dari yang terburuk.”

Apapun komentar orang tentang tulisan itu, tak membuat saya jera menulis. Baik atau buruk, mereka yang menilai. Layak atau tidak, masuk nominasi, mereka yang mengujinya. Tapi saya sudah mencoba untuk berkreasi sebaik-baiknya. Menghasilkan tulisan yang bisa dibaca orang, dan senang membacanya.

Selayaknya terima kasih diucapkan kepada mereka yang mendukung. Maaf kepada mereka yang tidak mendukung. Saya hanya debu kecil di bumi ini. Tulisan itu hanya rangkaian kata-kata yang tak perlu dibaca. Tidak narsis, khan? (*)

Read more...

Monday, March 24, 2008

Ketika Naga 'Tikus' Hijrah

Ada yang berbeda dari Cap Go Meh tahun ini. Sepi hingar bingar. Sunyi tabuhan bedug dorong. Tak ada tatung berkeliling kota. Naga pun enggan meliuk. Buka mata pun tidak. Ia tidur selama setahun.

Tikus tanah bencana bagi Tionghoa Pontianak. Tak bisa menikmati perayaan kelima belas Imlek 2559. Mereka harus hijrah. Menempuh ruang, waktu, perjalanan sejauh puluhan, bahkan ratusan kilometer.

Terbitnya SK 127/2008 jadi penyebabnya. Wali Kota Pontianak melarang arak-arakan naga, barongsai, dan tatung. Tionghoa Pontianak kecewa. Mereka protes. "Ini kebijakan yang diskriminasi," teriak Michael Yan Sriwidodo. Ia anggota DPRD Kalbar yang kebetulan beretnis Tionghoa.

Walau mereka protes, sang wali kota bergeming. Malah muncul dukungan dari Gerakan Melayu Bersatu. Kelompok ini siap mengawal kebijakan tersebut. Kawalan itu jitu. Terbukti pada hari kelimabelas Imlek. Naga tetap tidur. Tatung hanya jago kandang. Sungguh-sungguh kebijakan yang mumpuni.

Ada yang mengaitkan kebijakan itu dengan pilkada tahun ini. Orang beranggapan, Melayu takut kalah dari Tionghoa. Karena calon dari Melayu yang maju bakal lebih dari satu. Sementara Tionghoa (mungkin) hanya mengusung satu nama.

Orang-orang berkaca pada pilkada gubernur dan Singkawang. Gubernur: ada tiga calon dari kaum Melayu dengan wakilnya Dayak semua. Lalu muncul satu calon gubernur dari Dayak dengan wakilnya orang Tionghoa. Hasilnya pasangan ini berhasil menang dengan angka cukup signifikan.

Di Singkawang juga begitu. Dari lima paket calon, hanya satu dari kalangan Tionghoa. Selebihnya Melayu. Walau ada dua calon wakil walikota dari Tionghoa. Mayoritas orang Singkawang memilih calon yang walikotanya dari Tionghoa. Nah, orang-orang beranggapan kasuistik ini sebaiknya tidak terjadi di Pontianak.

Singkawang menangkap momen ini. Perayaan Cap Goh Meh akbar disiapkan. Sang Wali Kota, Hasan Karman mengemasnya dengan apik. Ratusan ribu orang berdatangan ke Kota Amoi itu. Hotel, restauran, homestay penuh. Singkawang hari itu jadi lautan manusia.

Kontras dengan Pontianak. Jalanan sepi. Tetabuhan dan liukan naga tak ada. Semua tiarap. Apalagi ada isu, sweeping bagi warga yang berani mempertontonkan liukan naga dan tatung di jalan raya. Cap Goh Meh kehilangan roh.

Memang SK itu tak sepenuhnya melarang. Beberapa klenteng tetap mempertontonkan atraksi tatung. Tak ada sweeping. Mereka hanya bermain di kandang. Ke luar kandang, mereka tak berani. Walau di kandang, warga yang menonton tetap berjubel. Tak hanya dari kalangan Tionghoa, orang di luar kaum itu juga ramai. Bahkan lebih ramai.

Imlek dan Cap Goh Meh sudah berlalu. Naga, tatung juga sudah beratraksi. Walau di kandang, tak mengurangi maknanya. Roh Cap Goh Meh tetap ada. Walau secuil. (*)

Read more...

Wednesday, March 5, 2008

Anak-Anak itu Bermain Sengkilik

Matahari mulai bergerak ke barat. Hawa panas masih meresap melalui pori-pori kulit. Halaman rumah betang di Desa Angan Tembawang sudah riuh. Enam bocah lelaki berjumpalitan, bermain pantok ular alias cangka lele. Berawal dari sengkilik kehidupan, permainan itu akan berakhir pada nsoyo ritual notongk. Orang Angan sedang musim menebang dalam almanak bercocok tanam.
Jumpalitan anak-anak berusia belasan tahun itu masih tetap ada. Tapi tidak lagi di halaman rumah betang. Rumah khas suku Dayak itu sudah berganti rumah-rumah pribadi. Mereka tetap bermain mengikuti almanak bercocok tanam, selama satu tahun, yang terus menerus dimainkan setiap tahunnya.

Nek Ombon, tetua Dayak Angan yang berusia 79 tahun mencoba menoleh masa lalunya. Masa ketika ia masih bermain cangka lele atau campak lambung, bahkan main ular naga
panjang. “Kami bermain sesuai dengan musim berladang. Musim menebas, ada permainannya. Musim menebang juga ada sendiri,” Nek Ombon coba mengenang.

Satu permainan itu berlangsung selama satu musim. Waktu satu musim biasanya hanya satu hingga dua bulan. Setiap musim permainannya berbeda. Ketika menebas, permainannya sengkilik (kincir angin yang terbuat dari sehelai daun) dan toptap.

Toptap adalah permainan dari bambu. Bambu sepanjang satu ruas yang dipotong. Biasanya dipakai bambu jenis piasak yang memiliki ruas cukup panjang. Bentuknya seperti pipa yang panjangnya bisa mencapai 30 centimeter. Untuk mendorong pelurunya, bisa menggunakan kayu bulat dengan ukuran lebih kecil dari diameter lubang bambu. Pelurunya bisa dari buah tanaman hutan atau kertas yang dibasahkan dengan air.

Aksi perang-perangan menggunakan toptap ini sangat digemari. Selain adu strategi juga mengandalkan ketahanan tubuh ketika terkena tembakan toptap. Jika tidak menggunakan baju, kulit bisa mengelupas. Apalagi jika pelurunya dari buah tanaman hutan.

Pada musim menebas, anak-anak juga bermain sengkilik. Cara membuatnya sangat mudah. Cukup dengan memetik sehelai daun, misalnya, daun rambutan, durian atau sejenis. Kemudian ujung kiri bagian tangkai dikoyak dan ujung kanan bagian yang lancip juga dikoyakan, sehingga terbentuk seperti kinciran.

Di tengahnya ditusuk dengan lidi atau ranting kecil. Memainkannya dengan berlari, sehingga berputar-putar seperti kipas angin atau kincir angin. Berlarian tadi untuk menghasilkan daya dorong dari gerakan berlari, karena ada angin yang bisa memutar daun tadi.

“Permainan itu hanya bisa dimainkan kalau pas musimnya. Zaman dulu, kalau memainkan permainan yang tidak pas musimnya bisa dikenakan denda ada. Tapi sekarang tidak lagi. Anak-anak kapan saja boleh memainkannya,” kisah Nek Ombon.

Kemudian, musim menebang, anak-anak subsuku Dayak Angan akan bermain pantok ular dan kayu jagong (engrang). Pantok ular terbuat dari dua kayu bulat sebesar ibu jari. Kayu yang panjang akan menjadi ibunya sedangkan satu kayu yang pendek akan jadi anaknya. Lalu anak-anak akan membuat lubang berbentuk segitiga di tanah, untuk memainkannya. Bermainnya dengan membentuk dua tim.

Satu tim akan mencongkel kayu yang berfungsi sebagai anak, tim lainnya menunggu dengan jarak tertentu. Biasanya ada taruhan bagi tim yang paling cepat mencapai jumlah tertentu. “Taruhannya biasanya menggendong yang menang dengan jarak yang telah disepakati,” kata Nek Ombon.

Pada musim membakar, anak-anak akan bermain layang-layang (kelayang). “Biasanya musim membakar angin cukup kuat. Karena banyak kayu yang ditebang. Jadi angin tidak terhalang oleh kayu-kayu,” katanya.

Saat musim mencangkul, orang Angan akan bermain tabong dan rundas. Permainan ini populernya disebut galah kepung. Permainan ini juga dilakukan secara tim. Ada dua tim: pengepung dan yang dikepung. Siapa yang berhasil tidak tersentuh hingga kembali ke pintu masuk pertama, maka ia memperoleh satu tabungan.

Kalau musim menanam (moyok), anak-anak di Desa Angan Tembawang, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, akan bermain semprot air. Semprot air ini bentuknya seperti toptap. Tetap ruas bambunya lebih besar, yang bagian bukunya dilobangi. Bagian yang berlobang diisi dengan air dan disemprotkan kepada lawan.

Ketika musim menyiangi, orang-orang Angan akan bermain sepak kanteng alias sepak belek. Cara bermainnya berkelompok dengan satu orang menjaga kanteng atau belek-nya. Anak-anak yang lainnya bersembunyi. Penjaga berkewajiban mencari dan menyebut nama yang bersembunyi. Jika ketahuan, maka penjaga harus berlari ke kanteng atau belek-nya dan memukulnya.

Penjaga harus mengamankan kanteng atau belek dari sepakan anak-anak yang bersembunyi. Jika tidak, maka ia akan menjadi penjaga untuk selama-lamanya. Sangat memalukan jika hingga akhir permainan, tetap menjadi penjaga kanteng atau belek karena akan menjadi sumber olokan.

Permainan akan berlanjut terus. Saat musim panen, kami akan bermain gasing. Biasanya gasing dibuat dari kayu-kayu keras, seperti belian ataupun kayu keras lainnya. Supaya tidak mudah pecah ketika beradu dengan gasing lainnya. Dalam tradisi Dayak Angan, tidak ada aturan terikat dalam permainan gasing ini. Sebab permainan ini hanya untuk menghibur anak-anak sambil menunggu orangtuanya pulang dari memanen.

“Tidak pernah ada pertandingan permainan gasing di kampung ini. Bermain gasing hanya kesenangan. Yang bermain juga anak-anak. Orangtua tidak lagi. Malu karena sudah tua. Paling-paling hanya menonton saja. Atau membuat gasing untuk anaknya,” kata Among, kepala Adat Angan.

Permainan mengikuti almanak berladang itu berakhir dengan bermain nsoyo. “Kalau nsoyo tidak bisa dimainkan sembarangan. Waktunya juga hanya satu minggu sebelum ritual notongk digelar. Setelah itu tidak boleh lagi. Jika ada yang sengaja memainkan, dikenakan denda adat. Karena bisa mengundang marabahaya bagi kampung,” kata Among.

Badan Koordinasi Olahraga Tradisional dan Permainan Rakyat (Bakortramara) Kalimantan Barat adalah badan koordinasi yang mengkoordinir cabang-cabang olahraga tradisional dan permainan rakyat yang terdapat di dalam masyarakat Kalimantan Barat, menghimpun para penggemar menyalurkan bakat dan keinginan menggali dan mengembangkan dan kemudian mewariskan kepada generasi penerus dengan upaya mengangkat permainan tersebut sambil memperkenalkannya.

Didirikan di Pontianak pada tanggal 10 Juli 1993, sampai saat ini Bakortramara telah melakukan inventarisasi 54 jenis olahraga tradisional dan permainan rakyat Kalimantan Barat, di antaranya: campak lambung, cangka lele, lem-lem ta aji mamod, tapuk bantal, tapak longga (enggerang), kelereng (guli), congklak, timpa erat (pisang, nanas), pinsut. (*)

Read more...

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP