Sunday, May 25, 2008

Kabung Tourne (3)

Rumah panggung di bibir laut tampak kokoh. Tiang penyangganya hanya beralaskan batu datar. Tidak menancap di tanah. Sesuatu yang baru aku temui di Pulau Kabung. Berbeda dengan rumah panggung di kampungku. Sebuah pengalaman yang luar biasa.

Kapal motor baru saja merapat. Aku melompat menuju bibir dermaga. Tas punggung ikut berayun. Tanganku memegang kresek ransum untuk dua hari. Senyum penduduk menyapa. Walau tak ada kata, senyum itu berbicara, “Selamat Datang di Pulau Kabung.”

Sambil menunggu teman-teman lainnya, ku berteduh di bawah jambu. Cukuplah untuk mengaso barang sejenak. Kami kemudian berjalan ke arah timur. Home stay milik Pak Ukas tujuannya. Jarak dari dermaga hanya 500 meter. Kami harus melalui gang kecil. Rumahnya menjorok ke laut. Dari bibir laut kira-kira 200 meter.

Tiba di rumah tanpa bilik, aku langsung berehat. Turunkan tas punggung, lalu berbaring di tikar pandan. Perut sudah teriak minta diisi. Beruntung Pak Ukas sudah siapkan makan siang. Tanpa menunggu tawaran, aku langsung makan. Ada yang mencegah, kucuek saja. “Sudah lapar. Dari pagi belum makan,” kataku.

Usai makan, Pak Ukas menghampiri. Pria berkulit gelap yang bertransmigrasi ke Kalbar pada 80-an itu tersenyum. Aku mengulurkan tangan. Ia ucapkan, “Selamat Datang.” Pak Ukas duduk bersila. Sesekali ia menyedot sigaretnya.

Pak Ukas kemudian cerita banyak soal Pulau Kabung. “Tempat ini, dulunya, untuk membuang korban-korban perompak (bajak laut). Korban itu dibunuh. Mayatnya dibuang ke pulau itu. orang-orang kemudian menamakannya Pulau Kabung. Dalam bahasa setempat, kabung berarti hantu.”

Mendengar hantu, beberapa teman bergidik. Mahluk Tuhan yang tak berwujud itu kerap membuat orang takut. Ada yang bertanya soal pantangan. Pak Ukas bilang, “Jangan bertingkah berlebihan.”

Pak Ukas kemudian berlalu. Kuturun dari bangunan beratap rumbia itu. Tangan kananku mengambil air. Kemudian kesepihkan ke dahi, dada, bahu kiri dan kanan. Beginilah adat kami: Orang Dayak. Kalau ke suatu daerah yang baru, harus permisi. Kalau ke laut, ya dengan air. Kalau ke gunung, ya dengan tanah dan lumut. Supaya mereka tahu kalau ada tamu yang datang.

Kita juga harus berteman dengan alam. Ya, khan!

Read more...

Friday, May 23, 2008

Kabung Tourne (2)

Kami harus meninggalkan gedung-gedung menantang langit. Lupakan ingar bingar pasar. Kabut asap yang mengundang asma. Berleha sejenak dari rutinitas kantor. Berpisah dengan sejawat dan keluarga selama dua hari. Bermunajat untuk keindahan hidup esok hari. Welcome Kabung!

Bus satu pintu baru saja berangkat. Bus jurusan Pontianak-Sambas ini membawa kami ke Teluk Suak. Sebuah tempat penyeberangan menuju Pulau Kabung. Isi bus itu ada 14 orang: tujuh laki-laki dan tujuh perempuan. Tiga wartawan, dua redaktur, dua fotografer, sisanya anak-anak ekspresi, sebuah rubrik di Harian Pontianak Post.

Bus terus bergerak. Dua tiga kota sudah dilalui. Ada yang tertidur. Ada yang memegang perut menahan lapas. “Tadi belum sarapan,” kata Shando, fotografer Pontianak Post yang tetap memelihara rambut gondrongnya.

“Sekarang di mana?” tanya Mela. “Masih di Pinyuh,” saya menjawab. Mela Danisari yang jadi koordinator tourne. Ia tidak begitu hafal dengan rute menuju Teluk Suak. Lokasinya berada di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang.

Pukul 09.00, bus yang kami tumpangi tiba di Teluk Suak. Sebagian teman-teman langsung mencari warung: makan. Sebagian lagi langsung menuju dermaga tradisional. Penumpang kapal motor telah menanti di bibir dermaga. Panas mulai mendera.

Nakhoda mengingatkan agar penumpang tidak duduk di bibir kapal. Gelombang cukup besar. Kapal ini bisa oleng. Penumpang lain mengingatkan, apakah sudah siapkan kantong plastik. “Nanti mabuk laut,” begitu pesannya.

Saat melintasi Laut China Selatan, teman-teman mengabadikannya. Kamera digital tanpa blitz terus menjepret. Cekikian dan gaya-gaya narsis dipamerkan. Penumpang lain hanya senyum-senyum. Inilah gaya remaja kota menikmati keindahan laut. Dari Teluk Suak ke Pulau Kabung membutuhkan waktu sekitar satu jam. (*)

Read more...

Thursday, May 22, 2008

Kabung Tourne (1)

Akhirnya, aku bisa lihat Pulau Kabung. Tak hanya mendengar cerita. Sekarang aku bisa nikmati deburan ombak. Tajamnya karang. Riangnya ikan-ikan berenang menggoda. Bagan-bagan yang kokoh melawan gelombang. Petromak yang menerangi bagan dan mengundang ikan terperangkap jermal. Sesuatu yang baru aku lihat. Sungguh menyenangkan.

Senin pagi, aku terpaksa bangun pagi. Hal yang jarang aku lakukan. Kuap belum mau pergi. Mata masih terpejam. Jam dinding kamar sudah tunjukkan pukul empat pagi. “Masih ada satu jam,” pikirku. Aku kembali berbaring.

Aku menggeliat. Kantuk masih menyerang. Kucoba melawannya. Bangun dan merapikan spring bed. Keluar kamar, kunyalakan neon ruang keluarga. Kabut asap pekat di luar rumah. Sudah dua minggu hujan tak datang.

Aku kembali menguap. Masih linglung. Waktu tidur hanya empat jam. Kutuju kamar mandi. Handuk melingkar di leher. Byur, kuguyur air dari bak mandi. Dingin. Aku menggigil. Cepat-cepat kugosok sabun. Sikat gigi. Hanya lima menit, aku sudah keluar dari kamar mandi.

Aku masih luangkan waktu untuk menyeduh teh panas. Sarapan kue kebeng. Cukuplah untuk menahan lapar.

Aku harus tiba di kantor Pontianak Post tepat pukul lima pagi. Kami akan berangkat berlibur: Tourne ke Pulau Kabung. Dua hari satu malam, menikmati deburan ombak menghantam bagan nelayan.

Shogun 25R kustarter. Melaju menembus kabut pekat. Masker dari sal jadi penutup hidung. Kualitas udara yang memburuk sangat berbahaya untuk kesehatan. Mata perih karena kabut membasah menembus retina. Sebagian tak peduli. Cuek saja.

Aku tiba di Gajahmada 2-4, pukul lima lewat sepuluh menit. Kupikir sudah telat. Tak tahunya, masih termasuk yang cepat datang. Orang ramai. Para loper koran berkemas. Mereka siap mengantarkan koran milik pelanggan.

Mobil penjemput baru tiba pukul 06.00. Itupun sudah tersesat dua kali. Begitu datang, kami langsung mengambil tempat duduk masing-masing. Siap berangkat menuju Pulau Kabung. (*)

Read more...

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP