Saturday, November 29, 2008

Hidup Karena Antiretroviral

Penyebaran Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome telah menginfeksi jutaan manusia di dunia. Banyak yang tidak sanggup menerimanya. Ada juga yang tetap semangat menjalani hidupnya. Pengidap mesti mengkonsumsi antiretroviral secara berkala. Bagaimana mereka menjaga semangat hidup saat kekebalan tubuhnya terinfeksi virus yang belum ada obatnya itu?

Lelaki berwajah oriental masuk membawa dua gelas air mineral. Ia meletakannya di atas meja mesin jahit yang tampaknya sudah lama mengganggur. Saya menyodorkan tangan ingin memberi salam. Ia menyalami saya dengan seberkas senyum di bibirnya. Lelaki itu kemudian duduk di pintu masuk ke ruangan lain rumah kopel tersebut.

Rumah kopel itu berada di gang sempit sebuah pemukiman penduduk di Kota Pontianak. Sebuah jembatan beton mengangkangi sungai kecil. Airnya keruh. di atasnya, anak baru gede asyik nongkrong. Walau belum malam minggu. Dua sepeda motor terparkir di depan rumah lelaki itu. Anak-anak keluar masuk rumah karena membeli jajanan.

Lelaki itu bernama Toni. Itu bukan nama aslinya. Itu nama kesepakatan antara saya dengannya. Ia salah satu warga Kota Pontianak yang terdeteksi telah mengidap AIDS. Umurnya baru 34 tahun. Sudah berkeluarga. Rima, nama istrinya. Itu juga bukan nama aslinya. Perkawinannya sudah dikaruniai satu anak. Eko, namanya, juga bukan nama asli.

“Wah, banyak juga yang beli warungnya,” saya membuka omongan.

“Ya, ini usaha kecil-kecilan. Cukuplah untuk makan satu dua hari,” jawab Toni.

Omongan kami terhenti, anak-anak datang membeli jajanan. Ada yang membeli es, manisan, bahkan ada yang sekadar ikut temannya.

Begitu anak-anak pergi, Toni mulai cerita. Ia terdeteksi mengidap AIDS pada 2005 ketika berobat pada sebuah rumah sakit di Jakarta. Saat cek darah, dokter bilang terinfeksi rumah sakit.

“Kaget. Saya tidak percaya. Kok, bisa? Saya pasrah. Saat itu tidak ada dampingan dari siapapun,” kata Toni.

Matanya memerah. Sesekali ia membetulkan lengan bajunya. Ia berusaha tersenyum. Obrolan kembali terhenti. Anak-anak mengetuk pintu. Mereka hendak membeli jajanan. “Tiap hari seperti ini. Nanti jam delapanan sudah sepi,” kata Toni.

Sejak tamat sekolah menengah, ia ke Jakarta. Di kota metropolitan itu, Toni mengenal narkotika. Uang gaji selalu habis untuk membeli narkoba saat sakaw menghampiri. Ketika terdeteksi, keluarga kaget. Tapi mereka mendukung. “Mereka tidak mengucilkan. Saya malah dikuatkan. Sudah terjadi, apa mau dikata,” Toni bercerita sambil berusaha mengembangkan senyum. Ada kegetiran dari kata-kata yang terungkap.

Rima juga tak kalah kaget. Walau begitu, tak terbersit dari benaknya untuk berpisah dengan lelaki yang dinikahinya pada 2000 itu. “Saya juga tidak bisa ngomong apa-apa. Saya mencintainya,” kata Rima. Semangat Rima mendampingi Toni untuk selama-lamanya bersambut. Ini membuat Toni semakin semangat menjalani hidupnya. Kekebalan tubuhnya terus digerogoti. Ia pun harus disiplin mengkonsumsi antiretroviral. Cinta membuat keduanya mampu bertahan menjaga bahtera keluarga sederhananya.

“Saya harus minum tujuh butir pil antiretroviral setiap hari. Jadwalnya harus beraturan. Setiap 12 jam sekali dengan jam yang sama. Tidak boleh telat,” kata Toni.

Antiretroviral diperolehnya secara gratis dari pemerintah. Tujuh butir itu berlainan jenis. Tiga diminum pukul delapan pagi, empat lainnya diminum pukul sembilan pagi. Begitu juga malamnya.

Rizal Ardiansyah dari Global Fund AIDS, Tubercolosis, Malaria Kalimantan Barat mengaku khawatir dengan ketersediaan antiretroviral. Sebab pengidap AIDS sangat bergantung pada obat tersebut. Apalagi jumlah pengidap yang ditemukan semakin banyak. Tentu saja kebutuhan terhadap antiretroviral juga semakin tinggi.

“Satu orang empat butir satu hari. Tapi ada juga yang belum minum obat, 240 orang yang minum obat. Yang tidak minum karena ada terapi lain. Yang dianjurkan minum obat karena tingkat kekebalan tubuhnya makin rendah. Stok sekarang, masih khawatir. Ketapang sudah tipis,” kata Rizal.

Sejak ditemukan pada 1993, jumlah pengidap AIDS terus bertambah. Hingga Oktober 2008, jumlah pengidap AIDS mencapai 915 orang, sedangkan HIV sebanyak 1.606 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 244 orang telah meninggal dunia.

Obat penyembuh AIDS masih misteri. Ilmuan belum menemukan formula jitu untuk menghentikan gerilya virus yang melemahkan kekebalan tubuh itu. Hari-hari pengidap hanya bergantung pada antiretroviral. Butiran pil yang memperlambat perkembangan virusnya.

Hari ini, dunia memperingati Hari AIDS. Kampanye yang mengajak masyarkat untuk berprilaku hidup sehat terus digaungkan. AIDS sudah menjadi wabah yang mengerikan. (*)

Read more...

Tuesday, November 11, 2008

Jurnalisme Sastrawi

Pukul sembilan pagi. Di Hotel Peony, Jalan Gajahmada, Pontianak, tempat workshop narative reporting dilaksanakan. Di Roof Cafe, lantai lima gedung itu tujuh belas orang sudah berkumpul. Saya orang kedelapan belas yang datang. Setidaknya itu yang tercatat pada daftar absen di meja pintu masuk.

Alex Mering berdiri. Ia menjadi pembawa acara dalam kegiatan itu. “Bisa kita mulai. Pesertanya sudah lengkap,” ujar Alex. Seremonial hanya berlangsung lima belas menit. Topik seremonial pun berganti materi kursus, tentang jurnalisme dasar.

Andreas Harsono, suhunya jurnalisme sastrawi jadi instruktur tunggal dalam kegiatan tersebut. Andreas beranjak dari duduknya. Sebuah laptop di meja terhubung over head projector. Ia maju menuju sebuah layar putih yang menampilkan materi kursus.

Andreas Harsono, seorang wartawan yang pernah bekerja untuk harian The Nation di Bangkok, Associated Press Television di Hongkong, The Star di Kuala Lumpur, dan Pantau di Jakarta. Ia mendapatkan Niemen Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard 1999-2000.

Mulai Senin, 10 November 2008 hingga lima hari ke depan, sebanyak 19 peserta akan digodok materi kursus jurnalisme sastrawi. Beragam latar belakang yang ikut. Dari pekerja media hingga ibu rumah tangga. Tiga di antaranya berasal dari Jerman. Walau tak lancar berbahasa Indonesia, ketiganya tetap semangat.

“Apa saya boleh mengganti slide dengan materi berbahasa Inggris?” tanya Andreas. “Teman-teman kita dari Jerman, agak kesulitan.” Tampilan materi yang sebelumnya berbahasa Indonesia pun berganti menjadi Bahasa Inggris.

Berkali-kali Andreas harus menuju laptopnya. Jika salah satu tutsnya tak disentuh, tampilan materi kursus yang disampaikan hilang. Berkali-kali pula Andreas memindahkan kursinya. Kadang ditarik dekat meja. Kemudian ditarik lagi dekat layar.

Pukul 12.00, Andreas mengakhiri paparannya. “Saatnya makan siang,” kata Alex Mering, pantia pelaksana. Beberapa peserta langsung menyantap hidangan. Sebagian lagi, masih melanjutkan obrolannya. Ada juga yang memanfaatkan masa rehat dengan merokok.

Kelas dimulai pukul satu siang. “Makanannya enak,” kata Andreas sebelum memberi materi. Sesi kedua ini membahas tentang wawancara. “Saya minta dua sukarelawan,” kata Andreas. Satunya sebagai pewawancara, yang lainnya menjadi narasumbernya.

Andreas menuliskan Rule of the interview pada white board. Ada empat hal pokok yang dibahasnya.Pertama, on the record artinya boleh mengutip apapun sesuai apa yang diinginkan. “Ini yang paling baik dalam melakukan wawancara,” katanya.

Kemudian, background – quotation only, artinya boleh mengutip tapi minta persetujuan narasumber bagian yang akan dikutip. Perlu ada kepercayaan antara narasumber dan penanya.

Ketiga, attribution artinya tidak menyebut nama sumber tetapi hanya jabatannya. Misalnya, menurut Dosen Universitas Tanjungpura, menurut seorang dekan di Universitas Tanjungpura. “Semakin sempit ruang untuk diketahui narasumbernya semakin bagus,” ujar Andreas. Terakhir, off the record. Ini sebaiknya tidak dipakai.

Dwi Safriyanti dan Sinna jadi relawan pertama. Wawancara dilakukan dengan duduk. Keduanya diberi waktu lima menit untuk sesi wawancara. Dwi yang advokat mengaku gugup. Begitu juga Sinna. Orang Jerman ini tak fasih berbahasa Indonesia.

Relawan kedua, Hentakun dan Johan Wahyudi. Mereka membahas topik wawancara di luar kelas. “Waktunya hanya satu menit,” kata Andreas. Wawancara dilakukan dengan narasumber yang tidak mau memberi penjelasan. Sehingga harus dilakukan dengan mencegat narasumber.

“Waktu kita hanya sedikit,” kata Andreas. “Pertanyaan yang diajukan harus bersifat close question. Narasumber hanya menjawab ya atau tidak.”

Diakhir sesi, Andreas memberikan tugas rumah kepada peserta. (*)

Read more...

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP