Saturday, January 24, 2009

Riwayat Karet

by: budi miank

Srek...srek...
Lading berlari mengitari pohon
Darah putih mengalir
Mengikuti alur gesekan lading
Satu daun menancap membentuk pancur
Tetes-tetes darah putih berjatuhan
Mulanya deras
Kemudian menyusut
Dan berhenti

Satu tadah menunggu di bawah pancur
Bambu tua terbelah
Termpurung kelapa menganga
Menampung darah putih yang berjatuhan
Setia hingga tetes terakhir

Seorang petani datang
Ia membawa satu ember
Tadah diangkat
Darah putih berpindah tempat
Kulat dikuliti
Petani tempelkan di bibir ember
Kadang digumpalkan
Membentuk satu bantal kecil
Terkadang berbentuk bola

Tiap batang didatangi
Semua isi tadah dipindahkan
Tak bersisa
Petani pun pulang

Kibasan ilalang tak dipedulikan
Walau menggesek celana selutut yang berderai
Ember nongkrong manis di pundak
Menuruni tebing
Menapaki tangga-tangga tanah
Licin ketika hujan turun
Liat ketika hujan baru usai

Di belakang rumah
Petani turunkan ember
Satu bak disiapkan
Diolesi tanah biar tak melekat
Kulat dipisahkan dari latek

Satu seloki cuka getah dituangkan
Petani mengaduk
Setengah beku
Latek dituangkan di dalam bak

Petani menunggu
Latek beku
Dituangkan dalam satu cetakan
Getah beku dibentuk jadi satu lembaran
Cukup tipis

Petani membersihkan diri
Tangan dan kaki
Penuh latek yang membeku
Serabut kelapa untuk menggosoknya
Terkadang dilumasi minyak tanah

Ketika waktunya tiba
Lembaran getah dibawa ke penggilingan
Biar tipis dan lebih rapi
Dijemur hingga kering
Karet pun siap jual.......

Read more...

Friday, January 23, 2009

Kusni Kadut

Ketika masih SMP, satu guru bercerita soal Kusni Kasdut. Ia bilang Kusni Kasdut itu penjahat ulung yang divonis mati pengadilan. Kusni Kasdut begitu terkenal ketika melakukan tindak kejahatan. Ia tak segan melakukan pembunuhan dengan kekejian.

Saya tak punya pretensi apa-apa soal Kusni Kasdut. Ia tidak saya kenal. Apalagi ketika saya SMP, teknologi informasi belum begitu populer. Secepat itu juga saya melupakan penjahat legendaris itu.

Dua puluh tahun berlalu, tiba-tiba saya teringat orang yang begitu terkenal di eranya. Saya coba browsing di dunia maya. Saya temui tuan Google. Setidaknya ada 11.300 hasil telusur untuk Kusni Kasdut, dengan waktu telusur selama 0,05 detik. Hal yang luar biasa karena begitu banyak literatur soal penjahat itu. Dari banyak penelusuran itu, saya tertarik dengan postingan milik satu sahabat dari Jambi.

Reinhard Hutagaol, si empunya blog. Postingan soal Kusni Kasdut ia ambil dari berbagai sumber. Cukup menarik. Ada beberapa foto Kusni Kasdut yang ditampilkannya.

Read more...

Friday, January 2, 2009

Dayak Angan dalam Mozaik Dayak

Dua manusia Dayak dan satu orang Jawa melakukan penelusuran suatu identitas. Tiga orang itu butuh waktu lebih dari sepuluh tahun untuk mengumpulkan beragam data.

Mereka mengolahnya dan mengemasnya dalam bentuk satu mozaik. Dayak Angan, satu dari banyak identitas yang masuk dari mozaik itu. Buku Mozaik Dayak itu diluncurkan di Pontianak pada 17 Mei 2008.

Saya diundang panitia, bukan sebagai manusia Dayak yang diteliti identitasnya, tapi sebagai seorang jurnalis untuk meliput. Dalam undangan ada satu potongan motif Dayak yang menempel pada latar kertas berwarna hitam. Dalam undangan itu juga tertulis satu judul, yang saya pikir itu buku, ‘Mozaik Dayak; Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak.’ Semua ditulis dalam huruf kapital.

Biar tahu apa isi mozaik itu, saya datang pada pesta peluncurannya. Saya bertemu beberapa teman. Saya bicara juga pada dua manusia Dayak yang menelurusi identitas dalam mozaik itu: Albertus dan Sujarni Alloy. Saya bertemu, tapi tidak berbicara, dengan satu orang Jawa yang terlibat dalam menyusun mozaik itu: Chatarina Pancer Istiyani. Banyak hal yang diceritakan dua manusia Dayak yang selama bertahun-tahun mengumpulkan catatan-catatan yang sempat hilang.

Baiklah. Saya tidak akan cerita bagaimana kisah para penelusur itu. Saya ingin tulis satu kegembiraan saja. Saya ingin berbagi kebanggaan. Satu Dayak yang selama ini tidak dikenal orang, tercatat dalam mozaik itu: Dayak Angan. Satu komunitas dari mana saya berasal.

Tiga penelusur identitas itu menempatkan subsuku Dayak Angan pada halaman 67, bagian 4 ‘Keberagaman Suku Dayak di Kalimantan Barat’ di mozaiknya. Ia menempati urutan pertama karena disusun sesuai abjad.

Ini bahasan soal Dayak Angan itu:

Subsuku Dayak Angan adalah subsuku Dayak yang bermukim di wilayah adat atau Binua Angan di Kabupaten Landak. Wilayah adat Angan berbatasan langsung dengan Kecamatan Tayan di Kabupaten Sanggau. Bahasa yang dituturkan oleh orang Angan adalah bahasa Angan Be-aye’. Bahasa Ba-aye’ menyebar sampai ke Kecamatan Tayan. Di daerah Tayan dan Sosok, bahasa Angan Ba-aye’ tersebut disebut juga bahasa Mali. Penduduk yang menuturkan bahasa ini disebut orang Dayak Mali.

Adapun kampung-kampung yang termasuk ke dalam wilayah adat Angan ini adalah Kampung Angan Tembawang, Angan Limo, Angan Asepm, Angan Tigakng, Angan Pelanjau, Angan Rampan, dan Angan Bulu Lanak.

Jumlah penutus bahasa Angan menurut data kecamatan pasa saat penelitian dilaksanakan adalah sebanyak 1.499 jiwa. Jumlah itu terdiri dari laki-laki sebanyak 746 jiwa dan perempuan sebanyak 753 jiwa. Jumlah kepala keluarganya sebanyak 248 ditambah dengan 150 kepala keluarga di Binua Rantauan dan Sengkunang.

Subsuku Dayak Angan sudah berada di Binua Angan sejak nenek moyang mereka dulu. Jadi, mereka merupakan penduduk asli di tempat yang sekarang mereka huni.

Di Kabupaten Pontianak dan Ketapang juga terdapat sekelompok orang Mali. Orang Mali yang berada di Ketapang merupakan penyebaran orang Mali dari Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau. Sementara itu, orang Mali yang di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang diduga penyebaran mereka pada tahun 1960. penyebaran orang Mali ini masih perlu ditelusuri secara lebih mendalam lagi.

Pembahasan soal Dayak Angan hanya 162 kata dari 215 kata. Sisanya membahas soal penyebaran orang Mali. Bisa dikatakan hanya satu halaman dari buku itu. Banyak tidaknya pembahasan soal orang Angan bukan satu masalah. Sepatutnya orang Angan berterima kasih kepada penelusur, yang sudah berupaya untuk menggali data tentang orang Angan.

Tetapi ada yang membuat saya tidak tenang. Kalimat ini, misalnya, “Wilayah adat Angan berbatasan langsung dengan Kecamatan Tayan di Kabupaten Sanggau.” Semestinya bukan Kecamatan Tayan. Seharusnya kalimat itu ditulis, “Wilayah adat Angan berbatasan langsung dengan Kecamatan Balai di Kabupaten Sanggau.”

Kemudian pada alinea kedua yang berbunyi, “Adapun kampung-kampung yang termasuk ke dalam wilayah adat Angan ini adalah Kampung Angan Tembawang, Angan Limo, Angan Asepm, Angan Tigakng, Angan Pelanjau, Angan Rampan, dan Angan Bulu Lanak.” Ini alinea yang salah besar.

Semestinya alinea ini ditulis, “Adapun kampung-kampung yang termasuk ke dalam wilayah adat Angan ini adalah Kampung Angan Tembawang (orang Angan menyebutnya Rumah Angan), Angan Merimo (disebut juga Angan Limau), Angan Sepmtigakng (disebut juga Angan Rampan), Angan Pelanjo (disebut juga Angan Pelanjau), Angan Belanak (disebut juga Angan Landak), Angan Bangka, dan Angan Tutu.”

Dalam launching itu, saya sudah sampaikan keberatan karena kesalahan tulis tadi. Tapi penelusurnya bilang, “buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Perlu waktu lagi untuk menelusurinya.”

Saya maklum kalau kesalahan itu terjadi. Penelusur, untuk tidak menyebut peneliti, juga manusia. Mereka juga punya keterbatasan. Sama seperti manusia-manusia lainnya. Saya bersyukur: Dayak Angan tercatat dalam satu mozaik yang ditulis orang-orang cerdas. (*)

Read more...

Berkelana dalam Silaturahmi Politik

Handphone di saku kiri celana jeans biru yang kukenakan bergetar, petanda ada panggilan masuk. Kuraih dan dilayar terlihat nama AR Muzammil.

“Ya, Bang,” kusapa dia.

“Kami mau ajak ke Tayan meliput kunjungan Akil Mochtar,” sahutnya.

“Jam berapa berangkat,” tanya saya.

“Empat pagi,” katanya.

Saya agak sulit bangun pagi. Tapi saya mencoba untuk tidak membuatnya tahu.

“Saya sih mau saja. Tapi saya minta izin dulu dari redaktur,” saya mencoba meyakinkannya.

“Tidak masalah. Nanti Bang Akil yang ngomong langsung. Siapa orangnya?” tanya dia.

“Bisa Holdi, bisa Salman,” jawabku.

Holdi Bulhasan, redaktur pelaksana dan Salman, pemimpin redaksi tempat saya bekerja.

Muzammil menelepon saya pada Jumat, 28 April 2006 sekitar pukul empat sore. Ia mengajar bahasa Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura. Belakangan belajar politik. Ia pernah menjabat Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu pada 2004.

Saya memberitahu Holdi ketika ia tiba di kantor pada pukul tujuh malam. Ia mengatakan kepada saya, “Kasi tahu Salman.” Sepertinya saya mendapat izin dari ucapannya tadi. Satu jam kemudian, saya memberitahu Salman. “Okelah,” katanya.

Mendapat izin dari dua orang itu, saya langsung kirim pesan singkat ke Muzammil. “Oke, kami jemput jam empat pagi, ya,” ia membalas pesan singkat yang saya kirim.

Inilah awal perkenalan saya dengan Akil Mochtar. Dulu saya hanya tahu, ia merupakan anggota dewan di Senayan. Saya belum pernah bertemu dengannya. Saya hanya mendengar dan membaca di koran saja. Setiap pulang ke Kalbar, ia selalu muncul di koran kami: Pontianak Post.

“Ini korannya Akil,” kata saya pada beberapa awak redaksi.

Saya dongkol juga karena setiap minggu selalu ada foto dan komentarnya. Kadang bisa pada dua atau tiga halaman. Saya makin dongkol karena berita tentang dia selalu dimuat.


*******

Saya harus men-setting alarm di handphone agar bisa bangun pagi. Benar saja. Pukul tiga pagi, saya ditelepon Muzammil. “Oi, bangun,” ujarnya. “Udah Bang, siap berangkat nih. Jemputlah.”

Rumah Akil di Jalan Karya Baru nomor 20. Dua mobil terparkir di halamannya. Satu land cruiser, satu lagi strada. Beberapa orang sudah menunggu. Orang-orang yang tidak saya kenal. “Kita mau ke Tayan. Ada undangan silaturahmi,” kata Akil sambil menjabat tangan saya.

“Ini rupanya orang yang bernama Akil Mochtar,” kata saya membatin.

Kami berangkat pukul lima pagi. Di land cruiser ada Anto, pemegang stir; Kasiono, ajudan merangkap tukang sibuk, Akil Mochtar, dan Akim. Di strada, ada Muzammil, saya, Mustafa, dan Ade yang mengemudikannya.

Tapi di Tanjung Hulu, kami harus menaikan satu penumpang lagi: Akim, seorang wartawan Equator (sekarang di Tribun Pontianak). Ia menambah jumlah rombongan menjadi delapan orang. Kami meluncur ke Tayan lewat jalan transkalimantan yang belum diaspal. Harus rela badan bergoyang-goyang karena lubang-lubang tidak mungkin dihindari. Batu-batu kecil terbang terlindas roda. Debu mengudara terembus angin dan singgah di paru-paru yang menghirupnya.

Rumah-rumah orang-orang di sepanjang jalan transkalimantan berwarna seragam: coklat keabu-abuan. Dinding-dinding terpoles secara alami. Kaca-kaca tak lagi bening. Ventilasi bukan lagi pintu masuk udara segar ke rumah.

“Hujan becek, kemarau berdebu,” kata Akim.

“Paru-paru mereka sudah berisi debu-debu jalan,” saya menyambung.

Mobil yang kami tumpangi tetap berlari di antara lubang-lubang jalan, di atas batu-batu kecil. Menggilas dan melahirkan debu baru bagi warga di sepanjang jalan. Warga hanya menutup hidung dengan tangan, tanpa masker. Sebagian lagi tak ambil pusing. Cuek saja.

Kami tiba di Tayan pukul sepuluh. Sambil menunggu sampan yang menyeberangkan, kami ngopi dulu. Akil menemui pedagang ikan, udang. Ia berdialog. “Kenal semua orang dengan wak ini,” kata saya dalam hati. Ada seorang ibu yang berteriak, “Pak Gubernur.” Akil hanya tersenyum. “Amin,” katanya menyahut.

Kami menyeberang dengan dua sampan. Saya cukup akrab dengan Tayan. Dari bahasa, saya bisa nyambung karena masih satu rumpun. Jarak Tayan dengan kampung saya, Angan Tembawang, kira-kira 40 kilometer. Kalau jalan kaki bisa dua hari. Kalau pakai sepeda bisa setengah hari. Kalau pakai sepeda motor satu jam. Maklum jalannya rusak berat. Belum beraspal. Pengerasan ada, tapi berlubang sana-sini.

Kami pulang dari Tayan sekitar pukul satu siang. Tidak ada informasi istimewa yang bisa saya tulis dari silaturahmi itu. Hanya perjumpaan sederhana antara seorang politisi Senayan dengan konstituennya. (*)


Read more...

Thursday, January 1, 2009

Satu Hadiah Malam Tahun Baru

Tak ada yang istimewa dari pergantian tahun ini. Semua berjalan apa adanya. Berjalan seperti biasa. Hanya doa-doa yang teruntai: ingin anugerah terindah tetap diberikan dalam melakoni tahun yang baru ini.

Usai magrib, saya baru pulang dari bermain futsal. Ini permainan yang terakhir pada 2008. Awak redaksi Pontianak Post yang penggila futsal berharap bisa bermain lagi pada tahun berikutnya.

“Tentu saja, kita akan main terus,” kata Salman, pemimpin redaksi dari koran Pertama dan Terutama di Kalimantan Barat itu.

Istri dan anak semata wayang menunggu di rumah. Mendengar derum sepeda motor shogun 125R biru, Vanessa langsung menghambur keluar.

“Ayah, baru pulang main bola, ya,” tanya bocah yang baru tiga tahun itu.

Ia memberikan senyumnya. Kemudian berlari menuju meja plastik biru di dekat pintu masuk kamar tidur utama. Ia mengambil satu buku dan spidol warna. Mulai menulis angka-angka yang bisa ia tulis. Lima menit berlalu, ia datang lagi kepada saya yang sudah duduk di bangku sambil menikmati air putih. Ia tunjukkan hasil coretannya. Walau tak sempurna, angka 1 sampai 4 berhasil ditulisnya. Ia belum bisa menulis 5 dan 6. Tapi Vanessa bisa menulis angka 7 dan 8. Ia juga menulis 10, tapi belum bisa menulis angka 9.

Ibunya keluar dari dapur. “Kemana kita malam ini, Yah,” tanyanya.

“Jalan-jalan,” jawabku sekenanya.

Usai mandi, kami siap-siap mau jalan-jalan. Lihat orang-orang merayakan malam tahun baru. Malam pergantian tahun tikus ke tahun kerbau. Tahun yang diharapkan bisa menjadi lebih baik. Semua sudah rapi. Vanessa pakai baju serba pink. Ayah ibunya pakai baju merah. Kompak!

Begitu keluar gang, kami disuguhkan musik-musik dengan suara keras dari panggung-panggung rakyat. Ada yang sekedar menonton memenuhi bahu jalan. Ada juga yang jingkrak-jingkrak. Tapi ada yang selintas lalu.

Sepeda motor kupacu melintasi jalur-jalur protokol. Mulai dari Sutan Syahrir, Sutan Abdurachman, masuk ke Ahmad Yani. Singgah sebentar di satu rumah makan. Sudah waktunya makan malam. Habis makan, kami bertiga melintasi jalan Ahmad Yani. Singgah sekejap di depan Gedung Kartini.

“Beli terompet.”

Graha pena tetap menjulang di tengah keramaian Jalan Gajahmada. Gedung biru tempat saya menuangkan karya-karya jurnalistik itu sudah mulai ramai. Tikar sudah terhampar di bawah tenda biru. Sepeda motor terparkir rapi. Anak-anak berlarian. Mereka berteriak, bermain lepas. Lantunan nada-nada dari organ tunggal mengalun lembut. Melahirkan irama yang indah memeriahkan tahun baru.

Anak saya juga bermain. Ia berlari sesuka hatinya. Kadang lari ke ibunya yang duduk di tangga depan lift. Kadang ke saya yang ngobrol bersama orang-orang sekantor. Sesekali merengek minta gendong. Sesekali berjoget mengikuti alunan irama organ tunggal. Terkadang asyik bergaya biar dijepret kamera. Enjoy aja!

Ini peringatan tahun baru sederhana yang dipenuhi doorprize dari sponsor. Tetamu yang datang diberi tiga kupon sesuai dengan rombongannya. Saya dapat nomor 7, 63, dan 64.

“Mudah-mudahan kita dapat lagi,” kata istri saya.

Acara dimulai sekitar pukul sembilan malam. Welsi yang jadi pembawa acara membuka dengan basa basinya. Games menebak judul lagu dan goyangan anak-anak kecil. Usai games, pencabutan undian dimulai. Saya salah satu yang beruntung: voucher makan di Hotel Mahkota senilai seratus ribu rupiah.

“Jadilah daripada tidak dapat,” kata saya pada istri.

Kami pulang dari acara itu sekitar pukul setengah sebelas malam. Tahun sudah berganti. 2008 telah usai. 2009 sudah datang. Selamat tahun baru. Happy new year. (*)

Read more...

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP