Friday, July 31, 2009

Kita Tak Sempurna

Lihat......
Ruang-ruang langit
Penuh gambar kegelapan
Menari mencari mangsa
Mereka yang tak berderma

Dengar......
Gemerisik air yang menghentak batu
Memberi nyanyian tak sempurna
Seolah ingin berkata
“kamu memang tak sempurna.”

Rasa....
Kepedihan sebuah hati
Setelah dikhianati cinta
Merindu tak berarti
Bertepuk tak berjawab

Mari....
Undang sahabat masuk
Biar hidup dengan indah



Read more...

Rumah Persahabatan

Inilah rumah persahabatan. Rumah yang penuh kegembiraan. Tidak ada kecemburuan, pertengkaran, dan kedengkian. Sahabat-sahabat yang mendiaminya sangat bersahaja. Seperti orang-orang bijak yang mencintai sahabat-sahabatnya. Tamu-tamu yang datang disuguhi menu-menu persahabatan. Tangganya bertahtakan emas persahabatan. Pintunya diukir dengan kata-kata yang menyejukan.

Di rumah persahabatan, kesahajaan menjadi yang utama. Tak ada gengsi karena memiliki kelebihan atau kekurangan. Ruang-ruang hidup dengan bersahabat. Orang-orangnya bergandeng tangan. Setiap ruang adalah keceriaan. Jendelanya dari bahan yang dipenuhi cinta. Ventilasinya terbuat karena indahnya persahabatan.

Setiap plafon dihiasi dengan warna-warna persahabatan. Lampu-lampu menerangi dengan cahaya yang bersahabat. Banyak orang merindukan untuk masuk ke rumah ini. Tidak sedikit yang antre untuk mendiaminya. Banyak yang bermimpi untuk menempatinya. Di tempat ini juga nestapa menjelma gembira. Mimpi-mimpi kian ditebal karena disinari cahaya persahabatan.

Semua orang diundang masuk ke rumah persahabatan. Tak ada pemeriksaan yang ketat seperti ketika mau masuk istana. Hanya kita perlu meninggalkan semua tradisi-tradisi di luar. Karena di rumah persahabatan kita harus mengisi ruang-ruang hidup dengan kebahagiaan. Sudut-sudut kehidupan harus dipenuhi suara-suara kejernihan.

Persahabatan ada di mana saja. Dia ada di ruang-ruang pengap. Dalam lift yang macet. Dalam kesedihan, dalam kesendirian. Seperti seorang Mandela yang merelakan tubuhnya di penjara untuk membebaskan sahabat-sahabatnya dari diskriminasi warna kulit. Seperti Mother Teresa, yang membebaskan orang-orang terhina di jalan-jalan kumuh India. Dan, banyak lagi sahabat-sahabat yang merelakan tubuhnya didera untuk membebaskan sahabat.

Kita juga diundang untuk menempati rumah persahabatan. Semakin banyak yang masuk, semakin indah. Banyak yang merelakan tubuhnya untuk tidak mendalami persahabatan. Ada ruang kebencian yang tertutup jika kita memasuki rumah persahabatan

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabat. Tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua berhasil mendapatkannya. Banyak orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. Namun di rumah persahabatan, tidak ada pengkhianatan.

Jika kamu masuk ke rumah persahabatan, kamu harus meninggalkan semua tradisi yang pernah kamu lakukan di luar. Kita harus masuk dengan kesucian diri untuk menemukan sahabat sejati. (*)


Read more...

Thursday, July 16, 2009

Cintai Hidup

Seorang musafir berhenti di tempat sahabatnya. Ia pun dipersilakan masuk. Bahkan ditawari menginap. Musafir menerimanya. “Ini teman lama. Sudah sepuluh tahun tak bertemu. Terakhir bertemu ketika masih sama-sama lulus SMA,” kata Musafir itu.

Tak heran, bila sang musafir menerima tawaran menginapnya. Sahabat melayani musafir dengan cinta. Memberikan keinginan musafir yang telah berjalan jauh. Memuaskan dahaga, mengenyangkannya dari rasa lapar, memulaskan tidurnya yang sudah lama terjaga.

Kedua orang yang berteman ini ngobrol hingga larut malam. Banyak cerita, banyak kisah, banyak pengalaman yang mereka tukarkan. Ada kesibukan, ada masa santai. Ada kepedihan, kegembiraan, keputusasaan, hingga ketidakberuntungan keduanya.

Musafir bilang, aktivitasnya membuat kesibukannya bertambah. Namun produktivitasnya memberi hasil yang memuaskan. Memang aktivitas memakan waktu yang akan memperbudak, bila tidak bisa mengelolanya. Akan tetapi, produktivitas dari aktivitas yang ada akan membebaskan kita dari waktu.

Seseorang harus berhenti menganalisa hidup. Jangan pernah membuat pisau bedah terhadap hidup yang tengah dijalani. Jalani saja. Nikmati saja, apa adanya. Sebab analisa yang kita buat membuat hidup menjadi lebih rumit. Bahkan sangat rumit.

Hari ini adalah hari esok yang kita khawatirkan kemarin. Kita merasa khawatir karena menganalisa hidup. Merasa khawatir menjadi kebiasaan yang akan memperbudak diri sendiri. Inilah yang membuat hidup kita menjadi tidak senang. Kita selalu risau, resah, dan gugup menjalani hidup itu sendiri. Kita selalu meminta pertolongan orang lain. Walau melakukan hal yang sepele.

Analisa yang kita buat menjadikan hidup penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Sebab ia selalu membayangi perjalanan hidup seseorang. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan. Karena itu, kita harus menentukan sebuah pilihan. Sama seperti ketika ada pemilihan umum. Pilih-pilihan yang membuat kita menjadi lebih baik. Tidak ada satupun orang yang ingin memilih, agar hidupnya tidak lebih baik.

Ketidakpastian itu sama halnya dengan rasa sakit yang tidak bisa dihindari. Kekhawatiran juga sama halnya dengan penderitaan. Keduanya adalah sebuah pilihan.

Kekhawatiran dan penderitaan itu ibarat intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Namun, manusia berbeda dengan emas dan intan. Manusia diasah dengan pengalamannya. Kadang penderitaan menjamahnya. Kadang kebahagiaan menghinggapi. Walau sejenak, bisa menyejukan.

Orang bijak bilang, dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya. Dalam kehidupan lain, banyak yang beranggapan, guru lebih banyak memberi pemahaman dibanding pengalaman. Padahal pengalaman dan pemahaman adalah dua hal yang berbeda.

Pengalaman penuh dengan rintangan. Masalah menjadi rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha. Hidup berleha-leha hanya akan membuat pengalaman dan pemahaman menjadi hampa.

Banyak orang yang tidak mau melihat ke dalam. Ia lebih melihat keluar. Jika kita melihat keluar, maka kita tidak akan tahu kemana mau melangkah. Sangat lebih baik, jika kita melihat ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.

Orang lain mengukur keberhasilan kita. Orang lain hanya bisa menilai dari luar. Apa yang terlihat itulah yang dinilai dan diukur.

Ini berbeda dengan kepuasan. Kepuasan diukur oleh diri sendiri. Jika kita tahu kemana kaki melangkah, ia akan melahirkan kepuasan. Bekerjalah dengan ketulusan. Bekerjalah dengan hati yang terarah. Biarkan orang lain berlomba dengan waktu. Karena ia tidak akan mampu mengalahkan waktu. Waktu terus perputar, sementara kita semakin diperbudaknya.

Para pujangga bilang, jalani hidup dengan cinta. Besarkan keyakinan. Tinggikan kesabaran. Buanglah segala rasa takut. Lawanlah ketidakpastian. Penuhi diri dengan rasa syukur.

Hidup itu sebuah misteri. Ia haruslah dipecahkan. Namun hidup bukanlah sebuah masalah yang mesti diselesaikan. Kembalilah kepada Tuhan. Berikan kepercayaan kita kepada-Nya. Pasrahkan diri agar Ia menuntun jejak langkahmu dalam berziarah di dunia ini. Hidup akan indah, bila kita paham untuk mengisinya. Cintailah kehidupan karena ia akan memberi hidup yang penuh dengan cinta....

Read more...

Tuesday, July 7, 2009

Rumah Cinta

Datang dan masukilah rumah cinta. Ada kasih sayang. Ada keindahan, kesenangan, dan kebahagiaan. Setiap tangga adalah lukisan cinta. Setiap dinding terukir syair-syair cinta. Setiap pintu mendendangkan senandung cinta. Tiang-tiang dipenuhi motif kasih. Keluarga yang tinggal di rumah cinta disinari cahaya cinta.

Ada seorang perempuan yang berjalan di gelap malam. Di pundaknya tergantung tas. Sesekali kakinya menendang kerikil. Kepala terus tertunduk, seolah tak ingin melihat realita. Padahal ada segumpal cinta yang harus diraihnya.

Banyak orang merasa jiwanya tidak memiliki cinta. Tapi ada juga orang yang merasa kalau ia sudah dipenuhi rasa cinta. Orang-orang yang merasa tidak memiliki cinta akan menghianati cinta. Padahal kekuatan cinta yang ada dalam jiwanya sangat luar biasa. Apalagi jika cinta itu diberikan kepada orang-orang yang memusuhinya, yang iri kepadanya.

Kemudian, orang-orang yang merasa memiliki cinta sudah mempunyai segala-galanya. Padahal tidak semua rasa cinta yang ia miliki itu ikhlas. Ada orang yang mencintai dengan terpaksa. Mungkin saja ia sudah dijodohkan. Atau mungkin saja, ia mencintai karena ada imbal balas jasa. Cinta seperti ini biasanya tidak datang dengan keikhlasan. Rumah cinta juga tidak ikhlas menerima cinta yang tidak ikhlas. Terutama pada cinta-cinta yang dipenuhi rasa benci, dan rasa iri.

Seorang sahabat berkata, “Apakah di dalam jiwaku ada rumah cinta?” Harus diakui, dalam setiap diri manusia, rumah cinta berdiri kokoh. Namun banyak orang yang tidak mengetahui seberapa kokoh rumah cinta yang dimilikinya. Orang-orang yang tidak mampu menggali rumah cinta dalam dirinya, berarti hatinya tidak dipenuhi cinta. Lain halnya dengan mereka yang bisa menggali cinta.

Ada tertulis, ketuklah maka pintu akan dibukakan. Agar kita bisa menemukan rumah cinta dalam diri, ketuklah pintu rumah cinta itu. Sang maha cinta akan membukakan pintu. Ia akan berucap, “Datang dan masukilah rumah cinta.”

Jika engkau sudah disilakan masuk, sebelum masuk, seperti yang ditulis Kahlil Gibran, sebaiknya engkau tinggalkan semua tradisi-tradisimu di luar. Sucikan dirimu agar rumah cinta bisa menerima keikhlasan kita.

Datang dan masukilah rumah cinta. (*)

Read more...

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP