Wednesday, September 23, 2009

Vanessa Kekasihku

Vanessa kekasihku. Empat tahun sudah kita bertemu. Banyak cerita yang kau beri. Banyak warna yang kau tumpahkan. Kadang kau buat hati kesal. Marah. Kadang juga membuatku tertawa. Gembira.

Hari ini aku janji bertemu Vanessa. Ingin menumpahkan kerinduan. Bersenda dan bercanda. Berkeluh tentang kegalauan hati. Berkesah soal kegamangan hidup. Bermesraan di antara rumput-rumput yang menari ditiup angin.

Vanessa berlarian bak anak kijang. Menyusuri padang lapang. Menyeruak ilalang yang basah karena hujan semalam. Tanpa tergores. Telanjang kaki. Rambut panjangnya berkibar bagai bendera yang tegak di puncak tertinggi tiang republik.

Di sebuah monumen cinta, ia berhenti. Duduk sambil mengatur nafas. Menanti dengan senyuman. Setangkai bunga ilalang dipetiknya. Memainkannya di antara lentik jemarinya. Ditiupnya. Serbuk-serbuk bunga itu terbang bersama angin membawa pesan cinta.

Gadisku itu sangat cantik dengan gaun putihnya. Bak pengantin menunggu mempelai laki-lakinya. Semerbak parfum dari sari mawar terbang bersama angin.

Sudah dua jam Vanessa bermain dengan ilalang. Ia menunggu kehadiran sang kekasih. Tetap tersenyum dalam penantian. Vanessa sangat sabar. Tak tampak semburat kekecewaan. Tidak ada kegalauan.

“Aku mencintai kekasihku. Aku akan setia menunggunya. Walau hari berakhir. Aku akan menunggunya,” Vanessa membatin.

Aku bertemu Vanessa. Kecantikannya membuatku terpesona. Dunia semakin indah. Ia membuatku ceria. Kegalauan dan kegamangan terobati. Vanessa sungguh mujarab. Ia obat paten yang mengobati segala luka. Vanessa benar-benar ajaib.

Vanessa kekasihku. Tetaplah tersenyum. Tetaplah ceria. Tumpahkan warna-warna kehidupan dalam hidupku. Berlarilah bagai anak kijang di padang lapang. Jangan pernah letih membuatku tertawa. Cintailah aku hingga akhir usia.

Vanessa kekasihku. Aku mencintaimu. (*)

Read more...

Tuesday, September 15, 2009

Saya Perlu Pencerahan

Sebuah pesan singkat masuk. Pesan itu datang dari seorang teman. “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.”

Saya prihatin. Bagaimana seseorang yang tegar seperti dia harus kehilangan semangat. Padahal setiap ketemu saya lihat dia begitu bersemangat. Apa yang terjadi? Saya menjadi seseorang yang haus dengan keingintahuan yang membuat teman tadi tidak bersemangat.

Siangnya, teman tadi kembali mengirim pesan singkat. Ia bilang ingin bertemu. Saya langsung iyakan. Kami bertemu di sebuah warung kopi. Saya datang lebih dulu sekitar lima belas menit. Ada beberapa teman satu profesi.

Tidak terlihat kalau dia memiliki beban berat. Justru sebaliknya. Si pengirim pesan singkat itu tetap ceria. Kami bicara banyak hal. Mulai dari hal yang tak penting hingga sesuatu yang membangkitkan semangat hidup.

“Apa yang kita rasakan hari ini?”

“Saya harus menjawab pertanyaan ini?” Saya balik bertanya.

“Tidak, disimpan saja,” sahutnya. “Hah,” kesal sepertinya.

Saya menangkap ada beban yang tersirat dari senyumannya. Saya coba menerka. “Kayaknya kami sedang mengalami masalah besar?”

“Ah, siapa bilang?” Dia mencoba berkelit.

Dia mencoba menyembunyikan kegalauan hatinya. Padahal sebenarnya ia sedang memanggul salib yang cukup berat. Salib adalah analogi bagi seorang kristiani jika ia memanggul beban berat. Salib merupakan sebuah gambaran penderitaan. Sama halnya ketika Yesus mengalami penderitaan ketika memanggul salib ke Golgota untuk menebut dosa manusia. Tapi salib sekarang ini tidak sebesar salib yang dipikul Yesus. Begitu juga dengan beban yang dipanggul teman saya.

Saya tidak berusaha menghiburnya. Saya malah meminta dia melawan penderitaan itu. Mengajak beban itu berkelahi. Tentu saja dengan pikiran-pikiran yang positif. Tapi bukan sebuah motivasi. Justru sebaliknya.

Teman berkilah. “Saya sudah tidak percaya dengan teori-teori motivasi. Banyak buku motivasi yang isinya tidak sesuai realita. Terkadang isinya berbohong.”

Apa jawab saya? “Itu betul. Saya juga tidak percaya dengan buku-buku yang katanya bisa memberi motivasi, memberi inspirasi.”

Lalu saya bilang sama dia, “Lebih baik kamu baca buku-buku kriminal. Serial-serial pembunuhan. Tentu saja saya tidak ingin kamu berbuat kriminal. Menjadi seorang pembunuh. Tapi sebaliknya. Dari cerita-cerita itu kamu harus membunuh bebanmu. Menangkap para kriminil yang mengganggumu sehingga kamu harus kehilangan semangat.”

Dia bergeming. Hanya alisnya sedikit naik. Jenggot jarangnya dipilin-pilin. Ia tidak mengangguk-angguk. Saya kira ia bingung. Atau sedang mencari alasan agar bisa meng-kick balik apa yang saya bilang tadi.

Lima menit saya biarkan. Ia tetap bergeming. Sesekali menggaruk kepalanya. Kegatalan. Kena miang. Atau mungkin ketombean. Kadang ia memegang hidungnya yang memang tak mancung.

“Banyak orang yang sepertimu. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi saya lawan. Tentu dengan hal-hal yang negatif. Saya bunuh beban-beban itu. Saya tangkap dan penjarakan dia. Dan, itu berhasil.”

Dia makin bingung. Kopi pancung yang dipesannya diseruput. Habis. Sigaret yang tersisa sebatang disulutnya. Sekali tarik, asap mengepul. Segumpal asap bebannya turut keluar. Kembali ia tersenyum. Agak getir. Tapi ada ketenangan yang keluar. Walau sedikit. Saya kira dia mulai senang. Masih jauh dari bahagia. Semangatnya belum pulih.

Tiga jam kami ngobrol. Kami pun bubar. Sebelum bubar, saya hanya bilang, “Jalani saja apa yang kamu dapati hari ini. Bersyukurlah karena masih ada yang mau menerima tenagamu. Berbahagialah karena kamu yang terpilih. Karena banyak yang terpanggil, tapi sedikit yang terpilih.”

Sebuah pesan singkat lain masuk. Saya buka. Isinya, “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.” Sebuah pesan singkat yang sama. Hah! (*)


Read more...

Monday, September 14, 2009

Aku Bertambah Tua

Apa yang terjadi besok? Sebuah pertanyaan dari seorang teman. Saya tak menjawab pertanyaan itu. Bukan tidak mau. Tapi saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi besok. Saya bukan seorang paranormal. Juga bukan seseorang memiliki kekuatan yang bisa menatap apa yang terjadi besok.

Tetapi satu hal yang satu dan itu pasti terjadi besok. Usia saya bertambah. Sebab kemarin, 14 September, saya menikmati pertambahan usia itu. Dan, saya semakin tua.

Setiap tahun tidak ada perayaan istimewa dengan hari kelahiran itu. Saya juga tidak berpikir mau merayakannya. Hanya ciuman hangat dari seorang gadis di rumah. Dan pelukan hangat seorang gadis kecil yang setiap pagi selalu manja.

Bagi saya, merayakan hari kelahiran bukanlah sebuah keistimewaan. Sejak kecil tidak pernah merayakannya. Makanya sampai sekarang pun saya tidak merayakannya. Hanya beberapa orang yang kenal, mengulurkan tangan mengucapkan selamat.

Lalu apa yang terjadi besok? Lagi-lagi saya tidak bisa menjawab. (*)

Read more...

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP