<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561</atom:id><lastBuildDate>Fri, 20 Nov 2009 13:07:55 +0000</lastBuildDate><title>budi miank</title><description>my home, my words, my memories, and my life</description><link>http://www.miank.web.id/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Budi Miank)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>107</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-611449827653961417</guid><pubDate>Fri, 20 Nov 2009 13:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-20T05:07:55.408-08:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>sastra</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>budaya</category><title>Notongk di Taman Mini</title><description>Kabar baik bagi orang Angan. Karya fotografi tentang ritual adat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; dipamerkan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Walau hanya dipamerkan, setidaknya Dayak Angan yang tidak tercantum dalam kamus bahasa Indonesia dilihat orang-orang yang mencintai seni dan budaya. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu orang yang lahir dan besar dengan identitas Dayak Angan, saya bangga. Setidaknya karya fotografi tiga jurnalis: Budi Miank (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pontianak Post&lt;/span&gt;), Muhammad Syaifullah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;), dan Jo Seng Bie (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Antara&lt;/span&gt;), telah  membawa ritual &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; kepada ruang publik yang lebih besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pantas berterima kasih kepada Syaifullah dan Jo Seng Bie. Keduanya telah rela menempuh perjalanan yang berat untuk mengabadikan, baik tulisan maupun karya fotografi, ritual &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; itu. Mereka sudah melakukan tugas jurnalistik yang sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga harus berterima kasih kepada Museum Negeri Kalimantan Barat yang sudi menjadikan karya fotografi itu bagian dari koleksinya. Saya tak menyangka museum mau menerima karya fotografi yang sangat sederhana itu. Niat saya, Syaifullah, dan Jo Seng Bie hanya sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kami ingin karya fotografi ini bisa jadi sumber inspirasi dan pengetahuan bagi mereka yang mencintai kebudayaan.'' Itu saya ungkapkan ketika menyerahkan karya fotografi itu kepada Rihat Natsir Silalahi yang waktu itu menjaba Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisita Kalbar. Ada juga Anthoni Runtu, kepala UPT Museum Negeri Kalbar. Datang juga banyak kolega sesama pencinta seni fotografi. Sebuah gawai yang supersederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiga tahun dari penyerahan itu, saya mendapat kabar dari Daud Dogel. Ia menjabat Kepala UPT Museum Negeri Kalbar menggantikan Anthoni Runtu, yang mutasi jadi Kepala UPT Taman Budaya Kalbar. ''Karya fotografi ritual adat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; Dayak Angan akan diikutsertakan dalam pameran budaya di Jakarta,'' kata Daud memberitahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surprise! Saya gembira sekaligus bangga. Ritual &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; yang sudah jarang terjadi akhirnya tiba juga di Jakarta, walau hanya karya foto. Saya senang setidaknya telah berhasil mengenalkan orang Angan ke dunia luar, dunia yang masih jadi impian bagi Dayak Angan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; di TMII Jakarta membuat saya bangga sebagai orang Angan. Bagaimana tidak, ketika banyak orang tidak tahu di mana orang Angan berdiam, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notongk&lt;/span&gt; menguak tabirnya. Saya malah mengistilahkan kekunoan Angan dengan, ''Jangan kau cari Angan dalam peta. Dia tertutup daun pisang.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memprihatinkan memang. Sejak republik ini merdeka, orang Angan belum menikmati listrik, jalan aspal yang mulus atau aliran air bersih yang terus menerus. Orang Angan masih tertinggal. Namun orang Angan sedang berjalan menuju surga impian perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo, Angan....&lt;br /&gt;Bravo, Notongk....&lt;br /&gt;Proficiat....(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-611449827653961417?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/11/notongk-di-taman-mini.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2551452585282549303</guid><pubDate>Mon, 02 Nov 2009 02:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-01T18:25:55.280-08:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Ayah, Maafkan si Bungsu</title><description>Pagi di Asrama Sepakat pada Januari 1999. Greg, seorang bruder dari Kongregasi Maria Tak Bernoda bergegas menuju unit Thomas. Almanak baru berada pada angka sembilan. Berselimut awan, matahari tetap setia menerangi alam.  &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru bangun pagi itu. Teh manis yang kubikin sebagai penghangat belum habis. Mandi juga belum. Masih bertelanjang dada karena aku masuk kuliah pukul tiga sore. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Greg bergegas. Pria tambun itu terhuyung. Kakinya seolah tak sanggup menahan bobot tubuh yang lebih dari seratus kilogram. Greg semakin dekat. Wajahnya seolah ingin memberikan satu kabar penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Greg mencari saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada kabar dari kampung." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ia meneruskan kabarnya, saya memotong, "Ayah saya meninggal, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greg mengangguk. Saya berterima kasih karena Greg telah memberitahu saya soal kabar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman memberi simpati. Tapi saya tidak menangis. Bagi saya, ayah sudah meninggal sejak empat tahun sebelumnya, sejak ia terserang lumpuh dan stroke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya langsung pulang kampung. Jadwal mid semester mata kuliah statistik dan probabilitas saya tinggalkan. Saya hanya berharap dosen mengerti dan bisa memberi mid susulan. Kalaupun tidak, toh saya sudah mengulang. Sebelumnya saya hanya diberi nilai C, standar untuk tidak wajib mengulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang disaku hanya 15 ribu rupiah. Itu cukup untuk ongkos. Kalau sekarang harus punya uang minimal 35 ribu rupiah. Pukul sepuluh bus berangkat dari Batulayang. Bus yang kutumpangi berhenti di Jelimpo. Bus belum bisa ke Angan Tembawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tiga sore, aku tiba di rumah. Aku tak menemukan jenazah ayah. Rupanya ayah sudah menghadap keharibaan Ilahi tiga hari lalu. Kabar kematian itu terlambat datang pada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan ibu yang sudah sepuh. Tapi masih kuat untuk bekerja, bahkan bisa dibilang workaholic. Ia marah kalau dilarang kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sudah hari ketiga. Ayah meninggal malam hari. Ia minta disuapkan dodol sisa natal. Habis makan dodol, ia seperti tersedak. Diberi air putih. Tak lama kemudian, ayahmu meninggal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu bercerita dengan wajah sembab. Ia menangis. Pria yang telah memberinya selusin anak telah tiada. Keduanya bersetia hingga akhir hayat. Sebuah cerita tali perkawinan yang patut ditiru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mahfum aku terlambat datang. Alasan kuliah baginya sangat masuk akal. Ibu tidak ingin anak-anaknya tidak sekolah. "Biar bajumu jelek, tapi hatimu bersih," begitu ibu berpesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kerabat yang bercerita bagaimana ayah meninggal. Aku hanya mendengar saja. Bagi saya, bagaimana pun caranya, tentu kesedihan tidak bisa mengembalikan ayah. Toh, ayah sudah meninggal. Ayah sudah tenang di pangkuan Yesus. Ayah sudah di surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat kali terakhir bertemu ayah ketika masih bisa bernafas. Ada mitos, kalau seseorang yang susah meninggal karena belum bertemu salah satu anaknya. Mitos inilah yang banyak orang kira menimpa ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan terakhir itu, saya berpesan kepada ayah, "Kalau ayah mau pergi, pergi saja. Jangan menunggu saya. Saya sudah merelakan ayah pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah tak menjawab. Ia sudah sulit bicara. Lidahnya kaku akibat sakit yang menderanya. Tapi wajah ayah menunjukkan kecerahan. Ia tegar. Ia sudah siap menghadapi kenyataan hidup. Ayah sudah ikhlaskan jika perziarahannya di dunia harus berakhir. Ayah bahkan sudah siap meneruskan perziarahannya di kehidupan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tahun kesepuluh bagi ayah meniti jalan di kehidupan lain. Putri sulungnya sudah menyusul setahun lalu. Beberapa cucunya juga sudah menyusul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap November, kami selalu berziarah. Orang Katolik memberi waktu khusus untuk mendoakan arwah. Setiap tahun, saya selalu meluangkan waktu untuk berziarah di perkuburan ayah. Tapi tahun ini saya tidak bisa datang. Bukan saya tidak mau, tapi pekerjaan saya tidak bisa ditinggalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, maafkan anakmu tak bisa ikut berziarah. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2551452585282549303?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/11/ayah-maafkan-si-bungsu.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6646715684198692014</guid><pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-30T22:56:43.872-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><title>Ruang 31</title><description>RUANG 31 di sebuah sudut kota. Hanya empat neon yang menyala. Sinarnya redup. Ruangan menjadi remang. Suara dari pengeras suara menyeruak masuk ke gendang telinga. Tiga deret kursi empuk menunggu untuk diduduki. Satu meja kaca dengan sebuah monitor untuk men-serach lagu-lagu yang sedap didendangkan. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada-nada mengalir tanpa harmoni. Bibir melafalkan syair-syair lagu diiringi jakun naik turun. Ini satu malam penghabisan. Esok kami harus meniti jalan sendiri. Menguak takdir yang kami ciptakan sendiri tapi kami tak mamu menghapus jejak yang telah mengisi ruang batin kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan pejuang jurnalisme mencoba berbagi rasa. Bersama menyelami keindahan malam. Menikmati dunia gemerlap dengan kerinduan. Menggarap bait-bait pertemanan dengan tali-tali kasih. Kami sedang mempererat silaturahmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam merangkak menuju pagi. Meninggalkan sisa-sisa kesepian cinta. Kami masih asik menenggak tetesan minuman tanpa alkohol. Kesejukan menyelinap di langit-langit merah muda menuju ruang pencernaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bernyanyi tanpa beban. Mendendangkan lagu-lagu dengan suara yang lebih pantas bersenandung. Berjingkrak dengan rambut yang sengaja diacak-acakan. “Ini gaya yang tak punya model. Ekspresi kebebasan setelah delapan jam dibebani tugas yang menjemukan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Blogger senyum tanpa tunjukkan gigi melihat si gondrong berjingkrak dengan suara parau yang tak berharmoni. Kadang ia berduet. Tapi lebih banyak meruncah syair-syair yang telah dilafalkan temannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu Wak Blogger ikut bernyanyi. Meraih mikrofon menyanyikan lagu favoritnya. Yang terdalam dan semua tentang kita. Dua-duanya milik Peter Pan. Hah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penghibur coba menawarkan rasa. Mengajak menikmati malam dengan cara lain. Ada yang terpikat, tapi banyak menolak. “Itu jalan menuju ruang kegelapan.” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6646715684198692014?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/10/ruang-31.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3701861770247763876</guid><pubDate>Sun, 18 Oct 2009 14:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-18T07:26:24.953-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>PUISI</category><title>Aku Ingin</title><description>Aku ingin mencintaimu &lt;br /&gt;Seperti laut yang setia kepada pantai&lt;br /&gt;Seperti matahari yang enggan meninggalkan bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau mencintaimu&lt;br /&gt;Bagai bulan yang setia menerangi malam&lt;br /&gt;Bagai bintang yang indah mewarnai langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan mencintaimu&lt;br /&gt;Bak awan yang tak mau mengingkari kebiruan langit&lt;br /&gt;Bak pungguk yang selalu merindukan bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap mencintaimu...&lt;br /&gt;Laiknya harmoni nada yang menbuat lagu menjadi indah&lt;br /&gt;Laiknya hidup yang terus berjalan walau ada kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Miank&lt;br /&gt;Pontianak, 18 Oktober 2009 &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3701861770247763876?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/10/aku-ingin.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8343037184017630336</guid><pubDate>Fri, 16 Oct 2009 12:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-16T05:48:23.643-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Wak Blogger Menduakan Blog</title><description>Sudut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Corner&lt;/span&gt; siang kemarin. Wak Blogger tercenung. Hatinya sedang mendua. Kopi yang dipesannya mulai dingin. Keriuhan cafe kopi itu tak mengganggunya. Konsentrasinya, katanya. Seperti seorang magician sedang memeragakan keahlian di hadapan ribuan penonton yang pada akhir permainannya berharap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;standing applause&lt;/span&gt;. Hah!&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Blogger tidak sedang bermain sulap. Ia sedang bingung mengatasi perasaannya. Sekali waktu ia pindahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mouse&lt;/span&gt; ke weblognya. Lain waktu, ia memindahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mouse&lt;/span&gt; ke fesbuk. Di weblog, ia mengamati postingan tulisan lamanya. Di fesbuk, Wak Blogger menjawab chating para temannya. Wak Blogger benar-benar sedang mendua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Blogger makin bingung. Semakin kuat ia melawan perasaannya, semakin tak mampu ia mengatasinya. Tapi bukan Wak Blogger namanya, kalau tak bisa keluar dari masalahnya. Ia tetap larut dalam kebingungannya. Tamu-tamu cafe sudah banyak yang beranjak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pasal Wak Blogger sampai bingung begitu? Usut punya usut, rupanya Wak Blogger sedang mendua. Nah? Pandai juga hatinya mendua. Gawat. Ia berselingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi pahitnya makin dingin. Wak Blogger sudah tak selera untuk menyeruputnya. Ia panggil seorang pelayan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minta air putih,” pesannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayan bergegas dan membawa sebotol air mineral. Wak Blogger membuka tutupnya dan langsung menumpahkan airnya ke dalam mulut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segar,” katanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis satu botol, Wak Blogger tak juga menemui gagasan. Tak mau waktunya sia-sia, ia lalu menulis surat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maaf, aku tak bisa mencintaimu sepenuh hatiku. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkanmu. Kamu adalah cinta pertamaku. Walau aku mulai berpaling ke lain hati, tapi aku tetap mencintaimu. Sekali lagi aku minta maaf karena telah menduakanmu. Aku tak bermaksud membuat sakit hati. Aku juga tak bermaksud membuatmu terluka. Aku hanya ingin ada cerita lain dalam hidupku. Aku hanya sedang dilanda kebosanan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, kenapa ini? Wak Blogger berpikir. Kemudian melanjutkan suratnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bersamamu aku bahagia. Bersamamu aku bisa menikmati ruang yang lebih besar. Denganmu kreativitasku semakin terasah. Waktu yang kita jalani tidak sia-sia. Semua lebih berarti. Gagasan-gagasanku cemerlang ketika kamu ada di dekatku. Hidupku lebih berarti.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lho? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi ada ruang lain yang membuatku berpaling. Ruang semu yang penuh dengan warna. Nuansa yang berbeda dengan yang kamu punya. Ada ruang-ruang untuk bercerita, berteman, hingga bermain. Ada mafia wars, farm ville, dan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak blogger berhenti sejenak. Ia bimbang. Bingung harus menulis apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku senang bercinta denganmu. Tapi aku juga senang berteman dengan ruang itu. Kamu sebenarnya sangat mengerti. Selalu tersenyum bila aku datang. Selalu tertawa bisa kita bercerita. Tapi ruang lain itu, begitu menyejukan. Terkadang ruang itu membuat hati kecewa. Banyak cercaan, makian, kadang juga hinaan.  Sekali lagi, aku minta maaf. Tapi aku tetap mencintaimu. I love you full.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Blogger mengakhiri suratnya dengan satu senyuman. Senyum yang membawanya memasuki dua dunia yang berbeda tapi memiliki kesamaan. Ia kemudian memutuskan untuk mencintai keduanya: blog dan fesbuk. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8343037184017630336?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/10/wak-blogger-menduakan-blog.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7151830122927406494</guid><pubDate>Sat, 10 Oct 2009 04:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-09T21:42:28.448-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Identitas</title><description>Saya mencintai perbedaan. Berbeda, bagi saya, adalah anugerah yang tidak bisa dihindari. Ada keindahan, bahkan keseragaman dalam perbedaan itu. Tuhan bahkan mencintai perbedaan. Untuk itulah, Ia menciptakannya. Aneh bila tidak ada perbedaan. Apa kata dunia? &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat Zechri Bajuri. Ia pernah terpilih sebagai anggota dewan di Kalbar. Belum habis masa jabatannya, ia diganti oleh kader nomor urut kedua di bawahnya. Zechri pindah partai sehingga direcall.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Mei 2005, saya diajak kunjungan kerja pada beberapa kota di Jawa. Zechri termasuk dalam rombongan itu. Saya tak begitu mengenal sosok itu. Yang saya tahu, Zechri itu anggota dewan yang duduk di komisi kesejahteraan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandung, kami naik mini bus pariwisata yang dicarter untuk berkeliling kota. Isinya ada delapan orang. Zechri salah satunya.  Ada Katarina Lies, Asmaniar, saya juga termasuk di dalamnya. Tentu bersama supir yang saya tidak tahu namanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan, tiba-tiba Zechri ngomong. “Kalau bisa ganti darah, saya mau, berapapun biayanya. Asalkan darah saya sudah tidak sama lagi dengan yang sekarang. Asalkan saya tidak lagi dicap sebagai orang etnis yang sekarang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terperangah. Ada yang tertawa. Aneh, saya kira. Lucu juga. Saya kira Zechri tahu kalau cuci darah sekalipun, identitasnya tak akan lepas. Ia tetap sebagai orang yang etnis yang disandangnya sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Zechri sedang bergurau. Mungkin juga ia sedang merasa tidak bahagia dengan identitasnya. Tapi Zechri tidak bisa memilih. Tuhan memberinya anugerah yang berbeda dari orang lain. Kami tak menanggapi serius apa yang diucapkan Zechri. Bagi kami, saya terutama, menganggapnya sedang bergurau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga ingat dengan Hadari Majri. Saya kenal ustaz itu ketika berkeliling ikut Akil Mochtar saat maju sebagai calon Gubernur Kalbar. Akil kalah. Kini ia menjadi salah satu Hakim Konstitusi di Mahkamah Konstitusi. Hadari adalah salah satu ustaz yang setia menemani Akil dalam memberikan ceramah agama bagi masyarakat yang dikunjungi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa ceramahnya, Hadari sering melontarkan kalau perbedaan itu indah. Ia kerap mengungkapkan bahwa manusia tidak bisa memilih identitasnya. Manusia tak kuasa menolak anugerah Pencipta, bahwa ia memilih lahir dari rahim seorang ibu manapun. Tuhan sudah menggariskan identitas seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau boleh memilih. Saya minta dilahirkan dari rahim seorang istri sultan di Brunei. Begitu lahir langsung kaya. Sampai tujuh turunan, kekayaan tidak habis. Tapi saya tidak bisa memilih. Saya begitu juga dengan kita semua di sini. Kita ini begini, sudah anugerah. Jadi janganlah mempermasalahkan identitas itu. Inilah perbedaan yang begitu indah.“ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya yang berbeda identitas dengan Hadari, ceramah itu menyejukan. Kata-kata yang menunjukkan betapa perbedaan itu melahirkan keseragaman yang berujung pada keindahan. Pesan yang menyampaikan bahwa manusia tidak bisa mengingkari identitasnya. Apapun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zechri dan Hadari adalah dua sosok yang berbeda identitas. Namun dua orang ini mengingatkan saya, tentu anda juga, bahwa identitas tak perlu dipersoalkan. Perbedaan identitas antarmanusia bukan sebagai alasan untuk merusak identitas itu sendiri. Toh, kita tidak bisa mengubahnya. Bagaimanapun caranya. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7151830122927406494?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/10/identitas.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7010394557728803486</guid><pubDate>Wed, 23 Sep 2009 11:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-23T04:40:50.752-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>profile</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Vanessa Kekasihku</title><description>Vanessa kekasihku. Empat tahun sudah kita bertemu. Banyak cerita yang kau beri. Banyak warna yang kau tumpahkan. Kadang kau buat hati kesal. Marah. Kadang juga membuatku tertawa. Gembira. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku janji bertemu Vanessa. Ingin menumpahkan kerinduan. Bersenda dan bercanda. Berkeluh tentang kegalauan hati. Berkesah soal kegamangan hidup. Bermesraan di antara rumput-rumput yang menari ditiup angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa berlarian bak anak kijang. Menyusuri padang lapang. Menyeruak ilalang yang basah karena hujan semalam. Tanpa tergores. Telanjang kaki. Rambut panjangnya berkibar bagai bendera yang tegak di puncak tertinggi tiang republik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah monumen cinta, ia berhenti. Duduk sambil mengatur nafas. Menanti dengan senyuman. Setangkai bunga ilalang dipetiknya. Memainkannya di antara lentik jemarinya. Ditiupnya. Serbuk-serbuk bunga itu terbang bersama angin membawa pesan cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadisku itu sangat cantik dengan gaun putihnya. Bak pengantin menunggu mempelai laki-lakinya. Semerbak parfum dari sari mawar terbang bersama angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua jam Vanessa bermain dengan ilalang. Ia menunggu kehadiran sang kekasih. Tetap tersenyum dalam penantian. Vanessa sangat sabar. Tak tampak semburat kekecewaan. Tidak ada kegalauan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencintai kekasihku. Aku akan setia menunggunya. Walau hari berakhir. Aku akan menunggunya,” Vanessa membatin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertemu Vanessa. Kecantikannya membuatku terpesona. Dunia semakin indah. Ia membuatku ceria. Kegalauan dan kegamangan terobati. Vanessa sungguh mujarab. Ia obat paten yang mengobati segala luka. Vanessa benar-benar ajaib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa kekasihku. Tetaplah tersenyum. Tetaplah ceria. Tumpahkan warna-warna kehidupan dalam hidupku. Berlarilah bagai anak kijang di padang lapang. Jangan pernah letih membuatku tertawa. Cintailah aku hingga akhir usia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa kekasihku. Aku mencintaimu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7010394557728803486?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/09/vanessa-kekasihku.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5185084981446026459</guid><pubDate>Tue, 15 Sep 2009 12:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-15T05:40:09.889-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><title>Saya Perlu Pencerahan</title><description>Sebuah pesan singkat masuk. Pesan itu datang dari seorang teman. “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.” &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya prihatin. Bagaimana seseorang yang tegar seperti dia harus kehilangan semangat. Padahal setiap ketemu saya lihat dia begitu bersemangat. Apa yang terjadi? Saya menjadi seseorang yang haus dengan keingintahuan yang membuat teman tadi tidak bersemangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnya, teman tadi kembali mengirim pesan singkat. Ia bilang ingin bertemu. Saya langsung iyakan. Kami bertemu di sebuah warung kopi. Saya datang lebih dulu sekitar lima belas menit. Ada beberapa teman satu profesi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlihat kalau dia memiliki beban berat. Justru sebaliknya. Si pengirim pesan singkat itu tetap ceria. Kami bicara banyak hal. Mulai dari hal yang tak penting hingga sesuatu yang membangkitkan semangat hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kita rasakan hari ini?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya harus menjawab pertanyaan ini?” Saya balik bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, disimpan saja,” sahutnya. “Hah,” kesal sepertinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangkap ada beban yang tersirat dari senyumannya. Saya coba menerka. “Kayaknya kami sedang mengalami masalah besar?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, siapa bilang?” Dia mencoba berkelit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencoba menyembunyikan kegalauan hatinya. Padahal sebenarnya ia sedang memanggul salib yang cukup berat. Salib adalah analogi bagi seorang kristiani jika ia memanggul beban berat. Salib merupakan sebuah gambaran penderitaan. Sama halnya ketika Yesus mengalami penderitaan ketika memanggul salib ke Golgota untuk menebut dosa manusia. Tapi salib sekarang ini tidak sebesar salib yang dipikul Yesus. Begitu juga dengan beban yang dipanggul teman saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berusaha menghiburnya. Saya malah meminta dia melawan penderitaan itu. Mengajak beban itu berkelahi. Tentu saja dengan pikiran-pikiran yang positif. Tapi bukan sebuah motivasi. Justru sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman berkilah. “Saya sudah tidak percaya dengan teori-teori motivasi. Banyak buku motivasi yang isinya tidak sesuai realita. Terkadang isinya berbohong.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jawab saya? “Itu betul. Saya juga tidak percaya dengan buku-buku yang katanya bisa memberi motivasi, memberi inspirasi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya bilang sama dia, “Lebih baik kamu baca buku-buku kriminal. Serial-serial pembunuhan. Tentu saja saya tidak ingin kamu berbuat kriminal. Menjadi seorang pembunuh. Tapi sebaliknya. Dari cerita-cerita itu kamu harus membunuh bebanmu. Menangkap para kriminil yang mengganggumu sehingga kamu harus kehilangan semangat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bergeming. Hanya alisnya sedikit naik. Jenggot jarangnya dipilin-pilin. Ia tidak mengangguk-angguk. Saya kira ia bingung. Atau sedang mencari alasan agar bisa meng-kick balik apa yang saya bilang tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit saya biarkan. Ia tetap bergeming. Sesekali menggaruk kepalanya. Kegatalan. Kena miang. Atau mungkin ketombean. Kadang ia memegang hidungnya yang memang tak mancung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak orang yang sepertimu. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi saya lawan. Tentu dengan hal-hal yang negatif. Saya bunuh beban-beban itu. Saya tangkap dan penjarakan dia. Dan, itu berhasil.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia makin bingung. Kopi pancung yang dipesannya diseruput. Habis. Sigaret yang tersisa sebatang disulutnya. Sekali tarik, asap mengepul. Segumpal asap bebannya turut keluar. Kembali ia tersenyum. Agak getir. Tapi ada ketenangan yang keluar. Walau sedikit. Saya kira dia mulai senang. Masih jauh dari bahagia. Semangatnya belum pulih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam kami ngobrol. Kami pun bubar. Sebelum bubar, saya hanya bilang, “Jalani saja apa yang kamu dapati hari ini. Bersyukurlah karena masih ada yang mau menerima tenagamu. Berbahagialah karena kamu yang terpilih. Karena banyak yang terpanggil, tapi sedikit yang terpilih.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesan singkat lain masuk. Saya buka. Isinya, “Saya perlu pencerahan karena semangat kerja sudah semakin melorot.” Sebuah pesan singkat yang sama. Hah! (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5185084981446026459?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/09/saya-perlu-pencerahan.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3342907131541074161</guid><pubDate>Mon, 14 Sep 2009 14:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-14T07:12:57.892-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Aku Bertambah Tua</title><description>Apa yang terjadi besok? Sebuah pertanyaan dari seorang teman. Saya tak menjawab pertanyaan itu. Bukan tidak mau. Tapi saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi besok. Saya bukan seorang paranormal. Juga bukan seseorang memiliki kekuatan yang bisa menatap apa yang terjadi besok. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi satu hal yang satu dan itu pasti terjadi besok. Usia saya bertambah. Sebab kemarin, 14 September, saya menikmati pertambahan usia itu. Dan, saya semakin tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun tidak ada perayaan istimewa dengan hari kelahiran itu. Saya juga tidak berpikir mau merayakannya. Hanya ciuman hangat dari seorang gadis di rumah. Dan pelukan hangat seorang gadis kecil yang setiap pagi selalu manja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, merayakan hari kelahiran bukanlah sebuah keistimewaan. Sejak kecil tidak pernah merayakannya. Makanya sampai sekarang pun saya tidak merayakannya. Hanya beberapa orang yang kenal, mengulurkan tangan mengucapkan selamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang terjadi besok? Lagi-lagi saya tidak bisa menjawab. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3342907131541074161?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/09/aku-bertambah-tua.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5656237433624722829</guid><pubDate>Sun, 30 Aug 2009 12:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-30T06:04:05.976-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Spongebob Vanessa</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/Spp4DhXZ5cI/AAAAAAAAAVU/-gSc_suF_H0/s1600-h/000001.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/Spp4DhXZ5cI/AAAAAAAAAVU/-gSc_suF_H0/s200/000001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375741107111585218" /&gt;&lt;/a&gt;Vanessa menggambar spongebob. Serial kartun yang ditayangkan tiap pagi itu jadi tontonan wajibnya. Apalagi kalau mau berangkat ke sekolahnya di Taman Bermain Kartini milik Suster Misi Fransiskus St. Antonius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia begitu bersemangat untuk belajar sambil bermain di sekolah tersebut. Bangun selalu pagi. Saat libur pun ia minta diantar pergi sekolah. Sebuah harapan yang indah jika untuk masa depan. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula Vanessa menarik garis tegak lurus. Kemudian satu garis mendatar yang ujung kirinya bertemu dengan bagian atas garis lurus tadi. Setelah itu Vanessa menarik satu garis lurus lagi yang diletakan di sisi kanan bukunya. Ia mengakhiri bentuk persegi panjangnya, dengan satu tarikan garis mendatar di bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lingkaran kecil dibuatnya di bagian atas persegi panjang itu. Satu garis seperti huruf L sedikit melengkung dibuat di antara dua lingkaran. Satu bulan sabit dengan garis mendatar menghubungkan kelengkungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar apa? “Ini gambar spongebob.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa baru berusia empat tahun. Ia lahir pada 2005 ketika subuh baru tiba. Lima belas menit setelah lahir, hujan mengguyur kediamannya. Sebuah anugerah di hari kelahirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu kemudian mengambil crayon. Satu warna diraihnya. Tangan mungilnya mulai mencoret. Mewarnai kotak persegi panjang yang dibuatnya. Tidak beraturan. Sesuka hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok dicoret-coret? “Ndak apalah. Biar cantik.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak usia dua tahun, Vanessa sudah pandai mencoret. Dinding-dinding ruang keluarga penuh grafiti yang tak bermakna. Diwarnai dengan kombinasi yang sangat tidak menarik. Coretan tangan khas keinginan seorang anak kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafiti dinding Vanessa tetap berlanjut. Bahkan hingga usianya empat tahun sekarang ini. Grafiti yang sekarang lebih bermakna karena berupa huruf dan angka hingga gambar-gambar kartun yang disukainya. Ya itu tadi, spongebob. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ulangtahun kemerdekaan tahun 2009, Vanessa ikut lomba mewarnai tingkat kompleknya. Ia juara dua. Hadiahnya hanya buku dan seperangkat alat untuk coret-coret lagi. Ia juga ikut lomba kecepatan dan ketepatan menyusun puzzle. Lagi-lagi ia juara dua. Ia tidak bisa cepat, tapi hati-hati. “Hanya kalah cepat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa tetap menggambar spongebob. (*)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5656237433624722829?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/08/spongebob-vanessa.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/Spp4DhXZ5cI/AAAAAAAAAVU/-gSc_suF_H0/s72-c/000001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8914480524227569308</guid><pubDate>Mon, 24 Aug 2009 09:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-24T02:30:07.363-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Mereka Terpaksa Menjanda</title><description>Kerusuhan antar-etnik di Sambas merenggut jiwa suami mereka. Dalam perlarian harus membesarkan anak-anak. Harta benda diambil tanpa ganti rugi. Jalan rekonsiliasi belum terwujud. Banyak perempuan terpaksa hidup menjanda. Mereka terus bertahan sebagai single parent pasca-konflik sosial di Sambas, Februari 1999.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menakutkan!” kata Marsuah. Perempuan 45 tahun itu mulai membuka tabir gelap hidupnya. Delapan anggota keluarganya, termasuk Niram, suaminya, jadi korban keganasan orang-orang yang kehilangan akal sehatnya. Membunuh sesamanya. Sebuah tragedi yang benar-benar dibumbui rasa benci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsuah tinggal di Desa Sengawang, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas ketika konflik antar-etnik terjadi. Ia hanya seorang petani biasa, berkebun, juga merawat sapi tetangga. Marsuah luput dari peristiwa tragis itu bersama lima anak perempuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sebenarnya tidak mau lari. Tapi keponakan saya memaksa. Biarlah kami mati, tapi kamu jangan. Saya bawa lima anak waktu lari. Tidak ada orang mau membawa. Mereka takut karena anak-anak saya masih kecil. Takut menangis di tengah hutan jadi ketahuan. Belum lagi lapar. Mereka takut tidak bisa selamat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang tinggal di relokasi pengungsi kerusuhan sosial di Kabupaten Sambas itu sedang menemani cucu perempuannya. Gadis kecil yang masih berusia empat tahun itu tidak mengenakan baju ketika saya temui, pekan lalu, di rumahnya, di SP I Madani, Desa Mekarsari, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Tempat ini lazim disebut Tebang Kacang. Sebuah perkampungan yang berjarak sekitar 35 kilometer dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2000, ada 500 kepala keluarga yang direlokasi ke SP I Madani. Pemerintah mengirimnya secara bertahap. Penempatan rumah dilakukan dengan pola undi. Namun semua korban kerusuhan sosial, baik Sambas maupun Sanggau Ledo memperoleh satu unit rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsuah juga memperoleh satu unit rumah untuk memulai kehidupan barunya. Rumahnya sangat sederhana. Tak ada peralatan mewah. Bahkan cenderung kosong. Hanya beberapa kursi saja. Namun rumah beratap seng yang terbangun dari papan itu bersih. Pohon jambu air hasil cangkokan ditanam di sisi kiri rumah. Satu kios kecil menghadap jalan gang. “Bekas jual bensin. Bensin sudah tidak ada lagi,” kata Marsuah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari rumah Marsuah, ada sebuah polindes yang dibangun pemerintah. Namun tidak ada tenaga medisnya. Di sebelah polindes, sebuah sekolah dasar. Sayup-sayup terdengar suara guru memberikan pelajaran kepada anak-anak. Sebagian dari mereka tidak mengenal kakeknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir sepuluh tahun, Marsuah tinggal di Tebang Kacang. Namun ia belum bisa melupakan peristiwa tragis yang menimpa keluarganya. Ia bahkan menolak menikah lagi karena menghormati suaminya. “Ndaklah saya. Ingat sama bapaknya,yang diarak kepalanya. Kasian dengan dia. Makanya saya tidak mau. Anak saya juga dipinta orang, tapi saya tidak mau. Biar saya bawa sendiri. Anak saya hidup, saya juga hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsuah bisa selamat dari kerusuhan itu. Ia bekerja apa saja untuk menghidupi gadis kecilnya. Mulai dari kerja upahan, mengangkut papan, pipa air, hingga mencari rumput untuk makanan sapi. Semua dilakukan agar anak-anaknya bisa tumbuh dewasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hidup di Kamp Pengungsian&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik antar-etnik di Sambas terjadi pada Februari 1999. Mereka yang terpaksa melarikan diri dari rumahnya berjumlah 53.948 jiwa atau 9.913 kepala keluarga (KK). Di Kota Pontianak, mereka berjumlah 30.120 jiwa atau 5.535 KK. Mereka ditampung di lokasi pengungsian Kompleks Olahraga di Jalan Ahmad Yani juga di Asrama Haji Jalan Soetoyo. Ada juga yang diamankan di rumah keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang ditampung di Kabupaten Pontianak dengan jumlahnya 16.319 jiwa atau 2.961 KK. Mereka yang diamankan di lokasi pengungsian sebanyak 6.120 jiwa atau 1.156 KK, sedangkan di rumah keluarga 10.199 jiwa atau 1.806 KK. Di Kabupaten Bengkayang 7.504 jiwa atau 1.416 KK. Sebanyak 4.209 jiwa atau 848 KK di antaranya tinggal di lokasi pengungsian, dan sisanya 3.295 jiwa atau 568 KK menetap di rumah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal Maret 1999, mereka diungsikan dari Kabupaten Sambas, menyusul meletusnya pertikaian antar-etnik selama Februari 1999, rumah dibakar serta ratusan jiwa lainnya tewas dibunuh. Lebih dari satu tahun, mereka tinggal di kamp-kamp pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kemudian melakukan relokasi ke Tebang Kacang. Sebuah desa yang jaraknya sekitar 35 kilometer ke arah tenggara dari Kota Pontianak. Desa Tebang Kacang masuk wilayah Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Kubu Raya resmi jadi kabupaten pada 2007 hasil pemekaran dari Kabupaten Pontianak. Program relokasi ini menelan biaya sekitar Rp2,5 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berbekal Baju di Badan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhonah lain lagi. Ia jadi korban kerusuhan antar-etnik pada 1996-1997 di Sanggau Ledo, Kabupaten Sambas (sekarang Bengkayang). Ada sekitar 1.770 kepala keluarga atau sekitar 9.000 warga yang terpaksa mengungsi di dua barak yaitu barak Galang dan Motong Tinggi, yang terletak di Anjungan, Kabupaten Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhonah juga terpaksa menjanda. Suaminya, Alimin tidak selamat. Perempuan 42 tahun ini lari bersama empat anaknya, Aliati, Mohayuwin, Marliati, dan Soimah yang baru berumur 40 hari. “Ia masih merah. Baru 40 hari,” kata Marhonah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu suaminya jadi korban dari salah satu keluarganya yang selamat. Namun ia tidak begitu saja percaya. Marhonah percaya suami masih hidup dan yakin akan bertemu pada suatu saat nanti. Harus menunggu lima tahun baru percaya jika Alimin telah meninggal. Marhonah lari tidak membawa harta bendanya. Satu-satunya harta adalah baju yang melekat dibadannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mandi. Baju itu diperas, dipakai lagi. Setiap hari begitu terus. Sampai dua minggu. Itu dicuci, diperas, dipakai lagi. Semua anak-anak saya itu begitu. Setelah itu ada bantuan. Bahkan Soimah, dua minggu tidak mandi karena tidak ada air. Hanya dilap pakai handuk. Air bersih juga tidak jalan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga dialami Maryam (65) dan anaknya Maisurah (28). Keduanya terpaksa menjanda. Abdullah, suami Maryam dan Syamsuri, suami Maisurah jadi korban konflik di Sanggau Ledo. Keduanya bertempat tinggal di Desa Jirak, Kecamatan Monterado, Bengkayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Maisurah baru 27 hari tiba dari Kualalumpur, Malaysia. Ia menjadi tenaga kerja wanita selama belasan tahun. Kerinduannya kepada keluarga mendorong Maisurah dan Syamsuri pulang ke Kalimantan Barat, Indonesia. Ia tak menyangka kepulangan itu justru kali pertama sekaligus terakhir bagi suaminya untuk bertemu orangtuanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya tidak punya rencana untuk pulang, tapi suami saya ingin ketemu mertuanya. Jadi balek. Sudah ada informasi dari tentara kalau ada kejadian di Kalimantan. Tapi saya tidak yakin. Beberapa kali ia mengingatkan. Bukan saya tidak percaya, tapi rasanya tidak mungkin. Memang sering terjadi tapi dapat lari. Tapi sekarang tidak bisa lari lagi,” kata Maisurah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhonah, Maryam, dan Maisurah merupakan warga Desa Jirak, Kecamatan Monterado, Kabupaten Sambas (sekarang Bengkayang). Tiga wanita ini kehilangan suaminya akibat kerusuhan antar-etnik 1996-1997. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum konflik, ketiganya bekerja sebagai penyadap karet. Penghasilan satu hari bisa mencapai 30 kilogram. Namun itu tidak ada lagi setelah kerusuhan itu. “Kami sekarang baru mulai hidup baru lagi. Harta benda masih di sana, tapi tidak mungkin diambil lagi. Kejadian itu benar-benar membuat kami kehilangan segala-galanya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivis Perempuan Kepala Keluarga Holilah mengungkapkan, konflik antar-etnik telah membuat para korban trauma. Holilah mulai mendampingi perempuan yang kehilangan suaminya sejak 2003. “Cukup sulit untuk membangkitkan kembali semangat hidup mereka. Mereka sangat trauma,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kata Holilah, secara perlahan, mereka bisa melupakan kejadian itu. sehingga bisa hidup secara mandiri untuk kehidupan mereka yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Sambas, waktu itu bupatinya dijabat Tarya Aryanto, mencatat kerugian material akibat kerusuhan antar-etnik tersebut menelan kerugian hingga Rp13,56 miliar. Perkiraan itu diperoleh setelah tim inventarisasi menyelesaikan tugas pendataan di lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil inventarisasi, jumlah rumah yang terbakar habis sebanyak 998 unit, dan rusak ringan 22 unit. Kemudian gedung sekolah dasar satu unit,  dan tempat ibadah enam unit. Penduduk yang kehilangan tempat tinggal tercatat 976 kepala keluarga.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8914480524227569308?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/08/mereka-terpaksa-menjanda.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-6094514195027334556</guid><pubDate>Mon, 17 Aug 2009 14:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-17T07:10:42.724-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Dari Angan Tembawang Kukibarkan Merah Putih</title><description>Setiap tahun, ulangtahun kemerdekaan republik ini diperingati. Setiap tahun pula, rakyat belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka masih miskin. Masih belum bisa menikmati jalan mulus, air bersih belum ada, kampung masih gelap gulita jika malam datang. Namun merah putih tetap berkibar di Angan Tembawang. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah boleh mencatat kemerdekaan Republik Indonesia sudah 64 tahun. Tapi saya belum merasa merdeka selama itu. Saya lahir sesudah tahun 1945. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang mengkritik negara belum memberikan kemerdekaan kepada rakyatnya. Tak sedikit yang pesimis, negara ini bisa memakmurkan rakyat. Tidak banyak yang berkata, “Saya tidak hanya mengkritik negeri ini. Saya telah berbuat banyak untuk republik ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, saya mengibarkan merah putih. Sesuatu yang tidak saya lakukan sejak dilahirkan. Bukan karena republik sudah berpihak kepada saya, tapi ada gadis kecil yang mengingatkan. Gadis kecil yang baru empat tahun usianya. Ia beli merah putih untuk dikibarkan di halaman rumah ayahnya yang belum habis kreditnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah saya tidak berada di Angan Tembawang. Tapi saya dilahirkan di desa yang jaraknya sekitar 300 kilometer dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak. Belum ada kemerdekaan yang sesungguhnya di desa itu. Ketertinggalan masih menghantuinya. Entah sampai kapan? Mungkin menunggu salah satu putranya menjadi eksekusi kebijakan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari republik, Angan Tembawang tetap mengibarkan merah putih. Kecintaan terhadap Indonesia sudah mengakar. Itu saya rasakan sejak lahir hingga mengenyam bangku sekolah. “Walau tertinggal, kami masih mencintai Indonesia. Kami tak ingin melepaskan diri.” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-6094514195027334556?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/08/dari-angan-tembawang-kukibarkan-merah.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-776306150412568168</guid><pubDate>Wed, 05 Aug 2009 13:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-05T06:12:01.093-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>profile</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><title>Mbah Surip, Gombloh, dan Kematian</title><description>Mbah Surip mengakhiri ziarahnya di dunia. Pelantun Tak Gendong itu menghembuskan nafas terakhirnya ketika berada di puncak popularitas. Ia menjadi miliarder dalam waktu singkat setelah ring back tone lagunya banyak diunduh pengguna telepon seluler. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Mbah Surip membuat semua orang berduka. Terutama keluarga, kolega, kerabat, sahabat, bahkan Presiden SBY secara khusus mengucapkan rasa belasungkawanya. Dunia panggung hiburan langsung kehilangan sosok fenomenal. Tak ada lagi Tak Gendong, Bangun Tidur, dan I Love You Full. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar Mbah Surip, ada Gombloh. Kisah penyanyi Di Radio ini tak jauh berbeda dengan Mbah Surip. Meninggal ketika lagu-lagunya sedang jadi hits. Keduanya populer saat usianya sudah menapaki tangga senja. Dua-duanya dicintai dan dikagumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dua orang ini juga punya perbedaan. Mbah Surip ngetop saat dunia hiburan sudah sangat maju. Sehingga sangat cepat dikenal. Gombloh terkenal ketika teknologi informasi belum begitu maju. Gombloh sangat minim tampil di layar televisi. Acara hiburan, musik, bahkan infotaiment juga belum ada. Namun sihir Di Radio sanggup membuat Gombloh menjadi begitu dikenal bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah bertemu kedua musisi itu. Bahkan, menontonnya secara langsung dalam sebuah acara musik juga tidak pernah. Saya hanya tahu Mbah Surip dari media televisi dan koran. Pun begitu dengan Gombloh. Saya hanya kenal dari televisi dan radio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Gombloh ngetop saya masih anak sekolahan. Pun begitu ketika Gombloh meninggal. Beda dengan Mbah Surip. Ketika ia ngetop saya sudah bisa mencari duit sendiri. Anak saya, Vanessa bahkan bisa melantunkan Tak Gendong yang begitu fenomenal itu. Ibunya, Susiati, bahkan merekam suara Vanessa dengan handphonenya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Gombloh, lagu-lagu tidak sempat saya rekam. Maklum belum punya handphone. Namun lagu-lagunya masih saya ingat. Apalagi lagu yang bertemakan nasionalisme, seperti Kebyar Kebyar. Hingga sekarang lagu itu masih saya ingat. Indonesia juga masih suka menyanyikan lagu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gombloh meninggal dunia di Surabaya pada 9 Januari 1988 setelah lama menderita penyakit. Tubuhnya yang kurus memang banyak menyimpan berbagai penyakit, ditambah kebiasaan merokoknya yang sulit dihilangkan. Menurut salah seorang temannya, sering kali Gombloh mengeluarkan darah bila sedang bicara atau bersin. Namun Gombloh pantang menyerah. Karena itulah ia mampu bertahan hidup cukup lama, meskipun dengan tubuh yang penyakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Mbah Surip dan Gombloh menunjukkan bahwa episode dan jalan kematian itu ada. Setiap orang memiliki jalan kematian dengan cara berbeda. Mbah Surip dan Gombloh meninggal saat berada di puncak kesuksesan. Keduanya meninggalkan orang-orang yang tengah mengandrungi karya seninya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian membuat kita mengakhiri perziarahan di dunia. Setiap orang pasti mengalami karena tidak ada keabadian. Bahkan nabi saja harus menghadapi kematian. Sebagian orang takut menghadapi kematian. Takut karena tidak siap. Tidak siap karena banyak tugas mulia yang belum dilaksanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bijak pernah berkata, “kematian itu bukan untuk ditakuti. Kematian itu ada untuk kehidupan yang sesungguhnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Requiem in Pace, Mbah Surip. I Love You Full. Merdeka!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-776306150412568168?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/08/mbah-surip-gombloh-dan-kematian.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3679369651082612043</guid><pubDate>Sat, 01 Aug 2009 05:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-31T22:40:41.328-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>PUISI</category><title>Kita Tak Sempurna</title><description>Lihat......&lt;br /&gt;Ruang-ruang langit&lt;br /&gt;Penuh gambar kegelapan&lt;br /&gt;Menari mencari mangsa&lt;br /&gt;Mereka yang tak berderma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar......&lt;br /&gt;Gemerisik air yang menghentak batu&lt;br /&gt;Memberi nyanyian tak sempurna&lt;br /&gt;Seolah ingin berkata&lt;br /&gt;“kamu memang tak sempurna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa....&lt;br /&gt;Kepedihan sebuah hati&lt;br /&gt;Setelah dikhianati cinta&lt;br /&gt;Merindu tak berarti&lt;br /&gt;Bertepuk tak berjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari....&lt;br /&gt;Undang sahabat masuk&lt;br /&gt;Biar hidup dengan indah&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3679369651082612043?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/07/kita-tak-sempurna.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7050182030890247288</guid><pubDate>Sat, 01 Aug 2009 05:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-31T22:30:51.361-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><title>Rumah Persahabatan</title><description>Inilah rumah persahabatan. Rumah yang penuh kegembiraan. Tidak ada kecemburuan, pertengkaran, dan kedengkian. Sahabat-sahabat yang mendiaminya sangat bersahaja. Seperti orang-orang bijak yang mencintai sahabat-sahabatnya. Tamu-tamu yang datang disuguhi menu-menu persahabatan. Tangganya bertahtakan emas persahabatan. Pintunya diukir dengan kata-kata yang menyejukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Di rumah persahabatan, kesahajaan menjadi yang utama. Tak ada gengsi karena memiliki kelebihan atau kekurangan. Ruang-ruang hidup dengan bersahabat. Orang-orangnya bergandeng tangan. Setiap ruang adalah keceriaan. Jendelanya dari bahan yang dipenuhi cinta. Ventilasinya terbuat karena indahnya persahabatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap plafon dihiasi dengan warna-warna persahabatan. Lampu-lampu menerangi dengan cahaya yang bersahabat. Banyak orang merindukan untuk masuk ke rumah ini. Tidak sedikit yang antre untuk mendiaminya. Banyak yang bermimpi untuk menempatinya. Di tempat ini juga nestapa menjelma gembira. Mimpi-mimpi kian ditebal karena disinari cahaya persahabatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang diundang masuk ke rumah persahabatan. Tak ada pemeriksaan yang ketat seperti ketika mau masuk istana. Hanya kita perlu meninggalkan semua tradisi-tradisi di luar. Karena di rumah persahabatan kita harus mengisi ruang-ruang hidup dengan kebahagiaan. Sudut-sudut kehidupan harus dipenuhi suara-suara kejernihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan ada di mana saja. Dia ada di ruang-ruang pengap. Dalam lift yang macet. Dalam kesedihan, dalam kesendirian. Seperti seorang Mandela yang merelakan tubuhnya di penjara untuk membebaskan sahabat-sahabatnya dari diskriminasi warna kulit. Seperti Mother Teresa, yang membebaskan orang-orang terhina di jalan-jalan kumuh India. Dan, banyak lagi sahabat-sahabat yang merelakan tubuhnya didera untuk membebaskan sahabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga diundang untuk menempati rumah persahabatan. Semakin banyak yang masuk, semakin indah. Banyak yang merelakan tubuhnya untuk tidak mendalami persahabatan. Ada ruang kebencian yang tertutup jika kita memasuki rumah persahabatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabat. Tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua berhasil mendapatkannya. Banyak orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. Namun di rumah persahabatan, tidak ada pengkhianatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu masuk ke rumah persahabatan, kamu harus meninggalkan semua tradisi yang pernah kamu lakukan di luar. Kita harus masuk dengan kesucian diri untuk menemukan sahabat sejati. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7050182030890247288?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/07/rumah-persahabatan.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3955458016367305053</guid><pubDate>Thu, 16 Jul 2009 14:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-16T07:38:43.253-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>budaya</category><title>Cintai Hidup</title><description>Seorang musafir berhenti di tempat sahabatnya. Ia pun dipersilakan masuk. Bahkan ditawari menginap. Musafir menerimanya. “Ini teman lama. Sudah sepuluh tahun tak bertemu. Terakhir bertemu ketika masih sama-sama lulus SMA,” kata Musafir itu. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, bila sang musafir menerima tawaran menginapnya. Sahabat melayani musafir dengan cinta. Memberikan keinginan musafir yang telah berjalan jauh. Memuaskan dahaga, mengenyangkannya dari rasa lapar, memulaskan tidurnya yang sudah lama terjaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang yang berteman ini ngobrol hingga larut malam. Banyak cerita, banyak kisah, banyak pengalaman yang mereka tukarkan. Ada kesibukan, ada masa santai. Ada kepedihan, kegembiraan, keputusasaan, hingga ketidakberuntungan keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musafir bilang, aktivitasnya membuat kesibukannya bertambah. Namun produktivitasnya memberi hasil yang memuaskan. Memang aktivitas memakan waktu yang akan memperbudak, bila tidak bisa mengelolanya. Akan tetapi, produktivitas dari aktivitas yang ada akan membebaskan kita dari waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang harus berhenti menganalisa hidup. Jangan pernah membuat pisau bedah terhadap hidup yang tengah dijalani. Jalani saja. Nikmati saja, apa adanya. Sebab analisa yang kita buat membuat hidup menjadi lebih rumit. Bahkan sangat rumit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari esok yang kita khawatirkan kemarin. Kita merasa khawatir karena menganalisa hidup. Merasa khawatir menjadi kebiasaan yang akan memperbudak diri sendiri. Inilah yang membuat hidup kita menjadi tidak senang. Kita selalu risau, resah, dan gugup menjalani hidup itu sendiri. Kita selalu meminta pertolongan orang lain. Walau melakukan hal yang sepele. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa yang kita buat menjadikan hidup penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Sebab ia selalu membayangi perjalanan hidup seseorang. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan. Karena itu, kita harus menentukan sebuah pilihan. Sama seperti ketika ada pemilihan umum. Pilih-pilihan yang membuat kita menjadi lebih baik. Tidak ada satupun orang yang ingin memilih, agar hidupnya tidak lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpastian itu sama halnya dengan rasa sakit yang tidak bisa dihindari. Kekhawatiran juga sama halnya dengan penderitaan. Keduanya adalah sebuah pilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran dan penderitaan itu ibarat intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Namun, manusia berbeda dengan emas dan intan. Manusia diasah dengan pengalamannya. Kadang penderitaan menjamahnya. Kadang kebahagiaan menghinggapi. Walau sejenak, bisa menyejukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bijak bilang, dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya. Dalam kehidupan lain, banyak yang beranggapan, guru lebih banyak memberi pemahaman dibanding pengalaman. Padahal pengalaman dan pemahaman adalah dua hal yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman penuh dengan rintangan. Masalah menjadi rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha. Hidup berleha-leha hanya akan membuat pengalaman dan pemahaman menjadi hampa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang tidak mau melihat ke dalam. Ia lebih melihat keluar. Jika kita melihat keluar, maka kita tidak akan tahu kemana mau melangkah. Sangat lebih baik, jika kita melihat ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang lain mengukur keberhasilan kita. Orang lain hanya bisa menilai dari luar. Apa yang terlihat itulah yang dinilai dan diukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berbeda dengan kepuasan. Kepuasan diukur oleh diri sendiri. Jika kita tahu kemana kaki melangkah, ia akan melahirkan kepuasan. Bekerjalah dengan ketulusan. Bekerjalah dengan hati yang terarah. Biarkan orang lain berlomba dengan waktu. Karena ia tidak akan mampu mengalahkan waktu. Waktu terus perputar, sementara kita semakin diperbudaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pujangga bilang, jalani hidup dengan cinta. Besarkan keyakinan. Tinggikan kesabaran. Buanglah segala rasa takut. Lawanlah ketidakpastian. Penuhi diri dengan rasa syukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup itu sebuah misteri. Ia haruslah dipecahkan. Namun hidup bukanlah sebuah masalah yang mesti diselesaikan. Kembalilah kepada Tuhan. Berikan kepercayaan kita kepada-Nya. Pasrahkan diri agar Ia menuntun jejak langkahmu dalam berziarah di dunia ini. Hidup akan indah, bila kita paham untuk mengisinya. Cintailah kehidupan karena ia akan memberi hidup yang penuh dengan cinta....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3955458016367305053?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/07/cintai-hidup.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-459765083833121234</guid><pubDate>Tue, 07 Jul 2009 07:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-07T00:38:14.271-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><title>Rumah Cinta</title><description>Datang dan masukilah rumah cinta. Ada kasih sayang. Ada keindahan, kesenangan, dan kebahagiaan. Setiap tangga adalah lukisan cinta. Setiap dinding terukir syair-syair cinta. Setiap pintu mendendangkan senandung cinta. Tiang-tiang dipenuhi motif kasih. Keluarga yang tinggal di rumah cinta disinari cahaya cinta.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang perempuan yang berjalan di gelap malam. Di pundaknya tergantung tas. Sesekali kakinya menendang kerikil. Kepala terus tertunduk, seolah tak ingin melihat realita. Padahal ada segumpal cinta yang harus diraihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang merasa jiwanya tidak memiliki cinta. Tapi ada juga orang yang merasa kalau ia sudah dipenuhi rasa cinta. Orang-orang yang merasa tidak memiliki cinta akan menghianati cinta. Padahal kekuatan cinta yang ada dalam jiwanya sangat luar biasa. Apalagi jika cinta itu diberikan kepada orang-orang yang memusuhinya, yang iri kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, orang-orang yang merasa memiliki cinta sudah mempunyai segala-galanya. Padahal tidak semua rasa cinta yang ia miliki itu ikhlas. Ada orang yang mencintai dengan terpaksa. Mungkin saja ia sudah dijodohkan. Atau mungkin saja, ia mencintai karena ada imbal balas jasa. Cinta seperti ini biasanya tidak datang dengan keikhlasan. Rumah cinta juga tidak ikhlas menerima cinta yang tidak ikhlas. Terutama pada cinta-cinta yang dipenuhi rasa benci, dan rasa iri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat berkata, “Apakah di dalam jiwaku ada rumah cinta?” Harus diakui, dalam setiap diri manusia, rumah cinta berdiri kokoh. Namun banyak orang yang tidak mengetahui seberapa kokoh rumah cinta yang dimilikinya. Orang-orang yang tidak mampu menggali rumah cinta dalam dirinya, berarti hatinya tidak dipenuhi cinta. Lain halnya dengan mereka yang bisa menggali cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tertulis, ketuklah maka pintu akan dibukakan. Agar kita bisa menemukan rumah cinta dalam diri, ketuklah pintu rumah cinta itu. Sang maha cinta akan membukakan pintu. Ia akan berucap, “Datang dan masukilah rumah cinta.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau sudah disilakan masuk, sebelum masuk, seperti yang ditulis Kahlil Gibran, sebaiknya engkau tinggalkan semua tradisi-tradisimu di luar. Sucikan dirimu agar rumah cinta bisa menerima keikhlasan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang dan masukilah rumah cinta. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-459765083833121234?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/07/rumah-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2559402891936805189</guid><pubDate>Fri, 12 Jun 2009 09:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-12T02:57:47.093-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Kampungku Tertutup Daun Pisang</title><description>Tiba-tiba malam ini saya teringat kampung halaman. Ingin pulang tapi tugas kantor berjibun. Iseng-iseng saya buka datangi tuan google. Saya ketik satu nama kampung: angan tembawang. Hasilnya tentu saja tidak mengejutkan saya. Hanya ada 243 hasil telusur untuk angan tembawang dengan waktu penelusuran 0.24 detik.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedih ketika tahu berapa jumlah angan tembawang terposting dalam dunia maya. Saya semakin sedih ketika tahu kalau angan tembawang lebih banyak diposting oleh saya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau saya sendiri tidak melek teknologi informasi?” saya bertanya pada diri sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya teringat seorang teman ketika masih tinggal di Asrama Sepakat. Pacarnya yang iseng-iseng lihat peta Kalbar bertanya, “kampung abang di mana?” &lt;br /&gt;Teman tadi hanya bilang, “jangan tanya di mana kampung abang. Dia tak kelihatan karena tertutup daun pisang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah! Aneh ini orang. Di peta kok ada daun pisang? Kebun kali, ya? Saya hanya senyum-senyum saja dengar celoteh teman. Pacarnya yang serius bertanya, hanya tersipu. Edan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang peta tak bisa memasukan semua tempat. Apalagi kalau skalanya kecil. Tak heran kalau banyak tempat, termasuk desa saya yang luput. Kampung yang kecil dan terpelosok itu sangat tidak mungkin masuk dalam peta yang skalanya kecil. Kasian ya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Angan Tembawang, satu kampung di Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Provinsi Kalbar. Ia masih masuk Republik Indonesia. Masih tertinggal karena akses dari perkotaan jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tujuh dusun di kampung itu: Bangka, Tutu, Angan Tembawang, Pelanjau, Limau, Rampan, dan Landak. Orangnya mayoritas bertani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang era 2000-an, orang-orang mulai kenal Angan Tembawang. Apalagi mulai banyak nama itu tercantum dalam kamus besar tuan google. Saya bangga bisa memopulerkan nama itu. Walau hanya sebatas di dunia maya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya jadi ingat ucapan seorang bijak. Jangan tanya apa yang diberikan kepadamu, tapi apa yang bisa kau berikan kepadanya. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2559402891936805189?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/06/kampungku-tertutup-daun-pisang.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-8342247522734243872</guid><pubDate>Tue, 26 May 2009 10:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-26T03:59:51.800-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Umum</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><title>Episode Kematian</title><description>Sebagian orang yakin kalau kematian sudah digariskan. Tapi ada juga yang memberontak. Sebab ada kematian yang direncanakan, bahkan terpaksa. Lalu bagaimana sebenarnya jalan menuju kematian tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengikuti media gathering sebuah produk minuman dalam kemasan di Yogyakarta, pertengahan Mei lalu, dalam perjalanan menuju Sombron, kami melihat seorang pengendara sepeda motor bersenggolan dengan sebuah mobil pick up. Pengendara sepeda terjatuh, penutup kepalanya pecah, tubuhnya penuh goresan. Ia terluka dan tidak sadarkan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, kasian,” kata Pipit, salah satu pegawai perusahaan minuman dalam kemasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang, “mereka sedang mendaftarkan diri untuk kehidupan berikutnya. Jika soalnya sulit, maka mereka akan kembali. Itu artinya mereka tidak lulus. Sebaliknya, kalau soalnya mudah, maka mereka akan menjalani kehidupan berikutnya. Mereka lulus. Berarti mereka sudah meninggal.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode kematian ibarat masuk perguruan tinggi. Mulanya mendaftar di universitas yang dikehendaki. Mendaftar ini sama saja dengan seseorang yang sedang sakit, dan dibawa ke instalasi gawat darurat untuk mendapat perawatan pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dokter jaga menyatakan harus menjalani rawat inap, berarti memasuk fase menunggu test. Fase menunggu ini bisa masuk intensif care unit atau ruang perawatan khusus. Di ICU, kita sedang menunggu panggilan untuk test. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak mampu ditangani di ICU, bisa saja langsung dirujuk ke ICCU. Di ICCU ini, kita harus mengisi soal-soal yang telah disiapkan. Dalam menunggu hasil pengumuman, sangatlah bergantung terhadap isian soal ketika kita berada di ICCU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kita bisa mengisi soal yang diberikan berarti bisa lulus. Itu berarti, kita harus meninggalkan dunia yang fana ini. Untuk melakoni kehidupan berikutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, jika tidak bisa mengisi soalnya, berarti gagal. Itu artinya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan pertobatan dengan menjalani sisa perziarahan di bumi. Ini haruslah dimanfaatkan.” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-8342247522734243872?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/05/episode-kematian.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-1674293954926716631</guid><pubDate>Tue, 31 Mar 2009 03:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-30T20:31:19.789-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>identitas</category><title>Grafiti Tanpa Makna</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SdGN9sQWU8I/AAAAAAAAAVE/XrlYSSFCnak/s1600-h/vanesa+(319).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SdGN9sQWU8I/AAAAAAAAAVE/XrlYSSFCnak/s200/vanesa+(319).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319188725892535234" /&gt;&lt;/a&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu grafiti terbentuk. Coretan dinding yang tak beraturan. Seperti sebuah karya seni yang tak beraliran, bahkan (mungkin) tidak bermakna. Si pencoret juga tidak tahu sedang melukis apa, atau hanya iseng saja untuk melampiaskan kesenangan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pencoret dinding hanya seorang anak kecil. Ia baru berusia tiga tahun delapan bulan. Kegemarannya mencoret dinding menjadi ruang berukuran lima kali tiga meter itu penuh warna. Tentu saja warna yang tak beraturan dan tak bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa gadis kecil yang mencoret dinding itu? Ia seorang perempuan yang terlahir pada 12 Juni 2005 di Pontianak,  sebuah gang yang mirip dengan ibu kota Perancis: Paris. Tak ada yang tahu apa yang ada dibenaknya ketika membuat grafiti itu. Tapi tak ada satupun yang melarangnya mencoret dinding. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi ruang kosong tanpa grafiti. Warna warni crayon dan spidol. Tak ada keindahan. Tak ada makna, bahkan tak ada aturan dari coretan itu. Semuanya hanya kesenangan sang pencoret. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pencoret tidak pernah puas. Bangun tidur, seusai makan, sehabis mandi, dan rehat sebelum tidur, selalu membuat grafiti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ia punya talenta seni yang besar. Biarkan ia memanfaatkan talenta itu dengan apa adanya. Mungkin suatu saat talenta itu akan membuatnya menjadi seorang seniman besar, yang selalu dikenang dunia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan pencoret dinding adalah bagian dari kebahagiaan keluarga. Ia membawa pencerahan ketika suntuk mendera. Tangannya yang mungil menari di tiap sudut dinding, dan lembar-lembar kosong buku seharga dua ribu rupiah. Ia bangga dengan karya seninya yang kolokan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa nama gadis kecil itu. Sejak setahun lalu, ia mulai merasakan iklim dunia belajar: playgroup. Ia menyukainya karena bertemu sejawat yang sama-sama punya rasa keingintahuan yang besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ingin grafiti Vanessa memberikan makna pada satu waktu nanti. Grafiti yang membawanya menjadi orang besar. Sebuah cita-cita mulia yang terpatri di dinding penuh grafiti. Tak hanya sekadar spongbob  squarepants. Lebih dari itu.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-1674293954926716631?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/03/grafiti-tanpa-makna.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SdGN9sQWU8I/AAAAAAAAAVE/XrlYSSFCnak/s72-c/vanesa+(319).jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-5233729683154748543</guid><pubDate>Sat, 14 Mar 2009 04:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-13T21:54:30.807-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>profile</category><title>Miang dengan Huruf K</title><description>William Shakespeare bilang, apalah arti sebuah nama. Petuah bijak lainnya bilang nama punya makna. Lalu bagaimana dengan Miank?&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya 1996, kemudian 2002. Satu nama melekat dalam dirinya. Miank, begitu namanya dipanggil. Seorang Dayak dari Angan Tembawang, satu desa yang jauh dari Kota Ngabang, di bagian tengah Kalimantan Barat. Orang desa menggantung hidupnya dengan menoreh karet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kemudian mengenalnya dengan sebutan miank. Sebuah nama yang menjadi trade mark-nya dalam dunia jurnalistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 1996, ada Orientasi Kegiatan dan Pembinaan bagi mahasiswa baru Katolik di Universitas Tanjungpura. Orkabina, begitu anak-anaknya menyingkatnya. Ini pekerjaan yang sulit karena kami harus bertanggungjawab terhadap mahasiswa baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, di Untan ada enam fakultas. Kami harus mengumpulkan sekitar 500 orang mahasiswa baru. Gedung widya Dharma jadi pilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya satu dari sekian banyak panitia. Tiap fakultas ada perwakilan. Paling tidak satu atau dua orang. Saya mewakili Fakultas Teknik. Saya salah satu dari seksi pengarah massa. Seksi yang berhubungan langsung dengan mahasiswa baru itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia membuat tata tertib, mahasiswa baru harus datang pukul setengah lima pagi. Sebelum masuk kelas, mereka harus mendapat pengarahan dari panitia. Tugas pengerah massa untuk mengumpulkan anak-anak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah tidak tidur satu malam. Harus mempersiapkan kegiatan ini. Panitia bilang jangan ada kekacauan. Pengerah massa salah satu seksi yang diminta tidak membuatnya menjadi kacau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu terlambat,” tanya Dalawi, salah satu pengerah massa. &lt;br /&gt;Mahasiswa yang ditanya diam saja. &lt;br /&gt;“Kalian ini miang. Buat kami gatal saja,” saya menimpali. &lt;br /&gt;“Sudah, push up sepuluh kali,” perintah Dalawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalawi, seorang pengerah massa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan. Ia memiliki nama lengkap Antonius Dalawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leni, mahasiswa baru yang terlambat itu. Seorang perempuan calon guru. Ia termasuk satu dari banyak mahasiswa yang terlambat. Ia harus jalan jongkok sejauh 50 meter. Hukum perempuan dan laki-laki memang beda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 1996, pukul tiga sore, saya pulang dari kampus. Jalan pulang harus melewati kos Leni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, bang Miank. Baru pulang, ya,” tanya dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kaget. Ia menyapa dengan sebutan yang bukan nama saya. Leni kemudian mengingatkan saya soal miank itu. “Kan abang yang dulu waktu Orkabina sering bilang miank.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru mudeng. Itu rupanya. Saya akhirnya mahfum juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau Leni menggunakan sebutan itu memanggil nama saya, toh, tidak ada orang lain yang ikut-ikutan. Biar tak punya teman, Leni tetap bergeming. Hingga saya tidak lagi bertemu Leni, tak ada orang lain yang memanggil saya dengan sebutan miang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setamat dari Teknik, saya langsung pulang kampung. Jadi seorang penoreh, petani sawah dan ladang, juga pengojek. Beban berat bagi seorang ‘tukang insinyur’ yang dipandang sebagai orang pintar, intelek. Memupus harapan orangtua yang ingin anaknya menjadi seorang pegawai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal 2002, musim tengkawang tiba. Ada empat pohon tengkawang milik saya yang berbuah. Hasilnya lumayan walau harga jualnya sangat rendah. Seribu rupiah untuk yang kering dan tujuh ratus rupiah yang masih basah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2002, saya memutuskan untuk berangkat ke Pontianak. Berbekal duit Rp500 ribu hasil menjual buah tengkawang, saya berangkat dengan restu ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pekan di Pontianak, saya membaca lowongan jadi repoter di harian Pontianak Post. Saya coba menulis lamaran. Tak dinyana, lamaran itu diterima. Ada 37 orang yang ikut seleksi tertulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian, tujuh orang diterima untuk ikut seleksi wawancara. Kala itu, CEO Pontianak Post Tabrani Hadi yang menginterview. Hanya ada dua pertanyaan saja: Anda merokok dan latarbelakang keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang sudah berhenti merokok sejak 1 Januari 2002 langsung bilang tidak. Sementara latar belakang keluarga juga dijelaskan. Selebihnya hanya wejangan dari satu orangtua untuk seorang anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai seleksi wawancara, lima orang yang dipanggil. Dua hari sebelum turun ke lapangan, Mella Danisari, yang mengasuh halaman Metropolis memberikan kesempatan pada reporter baru untuk memilih inisialnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini sudah ada dua Budi, satu Budi Darmawan (bud) yang bertugas di Sambas dan Budiman (bd) yang bertugas di Kapuas Pos Sintang. Nah, kamu harus cari inisial lain.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bingung juga harus makai inisial apa. Saya teringat dengan Leni. Sebutannya yang miang itu tergiang. “Saya makai inisial mnk aja.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu,” tanya Mella. “Miank,” jawab saya mantap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mella tertawa. Kok? “Miank itu kan gatal-gatal, kayak bambu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cari inisial donk,” pinta Mela. Saya bergeming. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Miank itu yang membuat gatal. Yang gatal itu, yang kena miank. Coba liat rebung. Dia tidak gatal kan, yang gatal, kalau kita terkena miang yang lekat di rebung,” saya mencoba memberikan dalil yang sekenanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, miank menjadi satu nama baru saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo miank. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-5233729683154748543?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/03/miang-dengan-huruf-k.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3675520027639784990</guid><pubDate>Thu, 26 Feb 2009 14:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-28T04:50:24.815-08:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Humaniora</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>profile</category><title>Ibu</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SaakxheCLsI/AAAAAAAAAU8/ySGEXZ-mw9w/s1600-h/vanessa+(133).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SaakxheCLsI/AAAAAAAAAU8/ySGEXZ-mw9w/s200/vanessa+(133).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307110381607595714" /&gt;&lt;/a&gt;Ia perlu satu tongkat untuk berjalan. Bukan untuk menyangga tubuhnya. Tongkat itu mengganti matanya. Sejak tahun lalu, ia tidak bisa lagi melihat. Ibu sudah buta. Bukan karena sakit, tapi matanya termakan usia. Walau tak melihat, ia mengenal suara. Ibu melihat dengan hati dan nurani. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Usia ibu sudah delapan puluh tahun. Walau tak ada identitas yang bisa menunjukkan berapa usianya. Tapi dari tubuh ringkihnya tergambar kalau ia tidak lagi muda. Dari rahimnya lahir satu lusin manusia baru. Saya salah satunya. Anak keduabelas dari duabelas bersaudara. Enam dari anaknya telah pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu ibu saya. Namanya Laci. Orang akrab memanggilnya dengan Nek Ombon. Maklum waktu masih muda, ia paling suka membawa jarai, yang dalam bahasa Dayak Angan disebut ombon atau kebondon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nek Ombon punya satu cita. Semua anak-anak bisa baca tulis. Syukur-syukur kalau bisa bergelar sarjana. Walau tak semua, cita-citanya tercapai. Dua anaknya bergelar sarjana. Satu jurusan agama. Satu lagi jurusan teknik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tak pernah sekolah. Ia tak bisa baca tulis. Ia hanya bisa menghitung. Itupun harga barang. Terutama karet. Kami anak-anaknya yang menjual karet tak bisa bohong. Ibu tahu kalau kami bohong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu termasuk istri yang setia. Ia merawat suaminya yang sejak 1994 terkena lumpuh total. Makan, minum, mandi, sekaligus buang kotoran di tempat tidur. Empat tahun ia harus menghadapinya. Baginya menjadi istri adalah amanah. Pada Januari 1999, ibu resmi menjanda. Ayah saya meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sendiri, ibu tetap berjuang mengongkosi pendidikan saya. Hasilnya satu gelar sarjana teknik berhasil digondol. Walau kemudian tidak bekerja sesuai spesialisasi. Tapi ibu tetap bangga. Ia bisa berdiri tegak di antara orang-orang kampung yang dulu mengejeknya. “Untuk apa mengongkosi anak sekolah tinggi. Nantipun ia akan jadi petani.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tipe orang yang bekerja keras. Ketika masih kuat, tak satu haripun dilewatkan tanpa kerja. Ia pernah marah ketika disuruh berhenti kerja. Ia bilang, “sakit badan ibu ndak kerja.” Wuuiiihhh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ibu benar-benar sudah tidak kerja. Bukan karena tidak mau. Tubuh tuanya sudah tidak kuat. Ia berjalan pun harus pakai tongkat. Kalau tidak, apapun di depannya akan ditabrak. Ia sudah tidak bisa melihat. Ia buta. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3675520027639784990?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/02/ibu.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WXfYFOqtU8c/SaakxheCLsI/AAAAAAAAAU8/ySGEXZ-mw9w/s72-c/vanessa+(133).jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-2494845884729508735</guid><pubDate>Fri, 13 Feb 2009 06:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-12T22:14:55.023-08:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>SOSIAL</category><title>Mencari Tuhan</title><description>Pernahkah Anda membaca riwayat Santo Agustinus? Atau pernahkah Anda menonton film ‘Para Pencari Tuhan’. Jika belum, ada baiknya Anda segera menjelajahi dunia maya dengan bertanya pada tuan google. Atau Anda segera pergi menemui penjual video cassette disk untuk membeli film besutan Deddy Mizwar tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Katolik, seperti saya, Santo Agustinus sangat dihormati. Saya sudah dikenalkan pada seorang Santo Agustinus sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia begitu terkenal sehingga kami yang masih belia pun harus mengenalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cerita tentang Santo Agustinus. Saya hanya menerima satu dari sekian banyak cerita itu. Pembimbing saya ketika masih SMP hanya bercerita bagaimana Agustinus mencari Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi, saya teringat kembali cerita guru pada 15 tahun lalu itu. Saya mencoba mengingat-ingat. Tapi tidak juga kunjung ingat. Saya kemudian teringat ada tuan google yang bisa jadi tempat bertanya. Begitu google saya jelajahi, hasilnya sungguh luar biasa. Ada sekitar 110.000 hasil telusur untuk Santo Agustinus dengan durasi selama 0.09 detik.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya telusuri satu film  berjudul, “Para Pencari Tuhan”.  Ada sekitar 146.000 hasil telusur dengan durasi selama 0.08 detik. Para Pencari Tuhan adalah sinetron kuis Ramadhan berdurasi 1,5 jam. Sinetron ini ditayangkan oleh SCTV, diproduksi PT Demi Gisela Citra Sinema. Skenarionya ditulis Wahyu HS dan disutradarai oleh Deddy Mizwar dan Kiki ZKR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santo Agustinus dan Para Pencari Tuhan memberi satu pelajaran bagi manusia. Pelajaran yang membuat manusia tidak serta merta mencari fisik Tuhan. Sebab Tuhan tidak hadir dalam bentuk fisik seperti halnya mahluk yang diciptakan-Nya. Tuhan hadir dalam diri setiap mahluk yang dicipta-Nya. &lt;br /&gt;Santo Agustinus yang dilahirkan pada tanggal 13 November 354 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara. Ayahnya bernama Patrisius, seorang kafir. Ibunya St. Monika, seorang Kristen yang saleh. Sementara Para Pencari Tuhan bercerita tentang kehidupan seorang penjaga mushaladan ketiga muridnya yang mantan narapidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada legenda yang terkenal seorang Santo Agustinus. Kisah inilah yang diceritakan guru ketika saya masih SMP. Cerita ini begitu membekas hingga saya ingin mencarinya dengan menjelajahi dunia maya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suatu hari, Santo Agustinus bertemu dengan seorang anak kecil di tepi pantai. Saat itu Ia sedang berusaha memahami misteri Trinitas ketika dilihatnya seorang anak kecil sedang berusaha memasukkan air laut ke dalam lubang kecil yang digali anak itu di tepi pantai. Agustinus menertawai anak itu karena usaha yang dilakukan anak itu adalah sia-sia belaka. Tetapi, anak itu malah menjawab bahwa usaha seorang manusia untuk memahami Allah adalah juga sia-sia belaka. Barulah Agustinus terbuka matanya bahwa anak kecil itu adalah Tuhan Yesus sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengapa manusia mencari Tuhan? Tuhan adalah jawab dari semua hal. Persoalan akan selesai jika manusia pasrahkan diri kepada Tuhan. Tentu saja Tuhan tidak menjawab, seperti seorang ayah mengabulkan permintaan anaknya yang ingin membeli es krim. Tuhan juga tidak menjawab pertanyaan, seperti halnya seorang murid bertanya pada gurunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menjawab permintaan, mengabulkan permohonan, dan mengiyakan doa, dengan cara lain. Cara yang tanpa disadari oleh manusia. Cara yang jauh dari nalar dan logika manusia. (*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-2494845884729508735?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/02/mencari-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-7265181527053404649</guid><pubDate>Sun, 25 Jan 2009 03:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-24T19:26:22.205-08:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>PUISI</category><title>Riwayat Karet</title><description>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;by: budi miank&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Srek...srek...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lading &lt;/span&gt;berlari mengitari pohon&lt;br /&gt;Darah putih mengalir &lt;br /&gt;Mengikuti alur gesekan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lading&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Satu daun menancap membentuk pancur&lt;br /&gt;Tetes-tetes darah putih berjatuhan&lt;br /&gt;Mulanya deras&lt;br /&gt;Kemudian menyusut&lt;br /&gt;Dan berhenti&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tadah&lt;/span&gt; menunggu di bawah pancur&lt;br /&gt;Bambu tua terbelah&lt;br /&gt;Termpurung kelapa menganga&lt;br /&gt;Menampung darah putih yang berjatuhan&lt;br /&gt;Setia hingga tetes terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petani datang&lt;br /&gt;Ia membawa satu ember&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tadah&lt;/span&gt; diangkat&lt;br /&gt;Darah putih berpindah tempat&lt;br /&gt;Kulat dikuliti&lt;br /&gt;Petani tempelkan di bibir ember&lt;br /&gt;Kadang digumpalkan&lt;br /&gt;Membentuk satu bantal kecil&lt;br /&gt;Terkadang berbentuk bola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap batang didatangi&lt;br /&gt;Semua isi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tadah&lt;/span&gt; dipindahkan&lt;br /&gt;Tak bersisa&lt;br /&gt;Petani pun pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kibasan ilalang tak dipedulikan&lt;br /&gt;Walau menggesek celana selutut yang berderai&lt;br /&gt;Ember nongkrong manis di pundak&lt;br /&gt;Menuruni tebing&lt;br /&gt;Menapaki tangga-tangga tanah&lt;br /&gt;Licin ketika hujan turun&lt;br /&gt;Liat ketika hujan baru usai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang rumah&lt;br /&gt;Petani turunkan ember&lt;br /&gt;Satu bak disiapkan&lt;br /&gt;Diolesi tanah biar tak melekat&lt;br /&gt;Kulat dipisahkan dari latek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu seloki cuka getah dituangkan&lt;br /&gt;Petani mengaduk&lt;br /&gt;Setengah beku&lt;br /&gt;Latek dituangkan di dalam bak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani menunggu&lt;br /&gt;Latek beku&lt;br /&gt;Dituangkan dalam satu cetakan&lt;br /&gt;Getah beku dibentuk jadi satu lembaran&lt;br /&gt;Cukup tipis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani membersihkan diri&lt;br /&gt;Tangan dan kaki&lt;br /&gt;Penuh latek yang membeku&lt;br /&gt;Serabut kelapa untuk menggosoknya&lt;br /&gt;Terkadang dilumasi minyak tanah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika waktunya tiba&lt;br /&gt;Lembaran getah dibawa ke penggilingan&lt;br /&gt;Biar tipis dan lebih rapi&lt;br /&gt;Dijemur hingga kering&lt;br /&gt;Karet pun siap jual.......&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-7265181527053404649?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/01/narasi-satu-lading.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5564142300435343561.post-3803496852970324590</guid><pubDate>Sat, 24 Jan 2009 04:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-23T20:29:58.303-08:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>profile</category><title>Kusni Kadut</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://reinhardjambi.files.wordpress.com/2008/04/kusni-1.jpg?w=238&amp;h=300"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 8px 8px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 298px;" src="http://reinhardjambi.files.wordpress.com/2008/04/kusni-1.jpg?w=238&amp;h=300" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika masih SMP, satu guru bercerita soal Kusni Kasdut. Ia bilang Kusni Kasdut itu penjahat ulung yang divonis mati pengadilan. Kusni Kasdut begitu terkenal ketika melakukan tindak kejahatan. Ia tak segan melakukan pembunuhan dengan kekejian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak punya pretensi apa-apa soal Kusni Kasdut. Ia tidak saya kenal. Apalagi ketika saya SMP, teknologi informasi belum begitu populer. Secepat itu juga saya melupakan penjahat legendaris itu.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun berlalu, tiba-tiba saya teringat orang yang begitu terkenal di eranya. Saya coba browsing di dunia maya. Saya temui tuan Google. Setidaknya ada 11.300 hasil telusur untuk Kusni Kasdut, dengan waktu telusur selama 0,05 detik. Hal yang luar biasa karena begitu banyak literatur soal penjahat itu. Dari banyak penelusuran itu, saya tertarik dengan postingan milik satu sahabat dari Jambi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reinhard Hutagaol, si empunya blog. Postingan soal Kusni Kasdut ia ambil dari berbagai sumber. Cukup menarik. Ada beberapa foto Kusni Kasdut yang ditampilkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5564142300435343561-3803496852970324590?l=www.miank.web.id' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.miank.web.id/2009/01/kusni-kadut.html</link><author>noreply@blogger.com (Budi Miank)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item></channel></rss>